<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>education-systems &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/education-systems/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "education-systems"</description>
	<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 06:16:16 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Sistem Pembelajaran dari Behaviouristik ke Konstruktivistik]]></title>
<link>http://lumansupra.wordpress.com/?p=227</link>
<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 08:42:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>lumansupra</dc:creator>
<guid>http://lumansupra.wordpress.com/?p=227</guid>
<description><![CDATA[seperti yang kita tahu sebelumnya bahwa manusia di Indonesia (bahkan sampe saat ini) masih terjangki]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>seperti yang kita tahu sebelumnya bahwa manusia di Indonesia (bahkan sampe saat ini) masih terjangkit sebuah penyakit 'keseragaman'. hal ini dibuktikan dengan budaya copy&#38;paste yang banyak dilakukan di berbagai aspek kehidupan. ciri2nya mungkin bisa dilihat dan dirasakan bahwa mempunyai pola pikir sentral monoton (tanpa kreatifitas), dan mengakibatkan keseragaman.</p>
<p>nah, kehidupan di Indonesia kebanyakan masih tidak bisa menerima keragaman, dan masih menjunjung tinggi keseragaman, padahal kita udah didoktrin untuk menghapalkan 'bhineka tunggal ika'. namun entah karena kebanyakan orang indonesia mempunyai otak mahal ato penjajah terdahulu sukses mencuci otak bangsa Indonesia sampai 9 turunan, sampai sekarang keseragaman masih sulit untuk diterima.</p>
<p>saya jadi ingat peribahasa jaman dulu (SD, SMP, mungkin SMK juga)<!--more--> bahwa ada yang mengatakan 'berakit-rakit kita ke hulu, berenang-renang ke tepian' ato 'gantungkan cita2mu setinggi langit'. sebagai kata mutiara mungkin itu adalah cocok. tapi jika kita menghadapi dunia sekarang hanya dengan mutiara tersebut, bisa jadi kita yang akan dianggap sebagai orang jaman pra-modern. trus yang modern itu apa? beberapa waktu lalu saya baru mengerti bahwa sistem modernisasi membuat kita menerima kenyataan dengan akal sehat dan jiwa yang sehat. seperti 'hidup ini adalah perjuangan', trus 'benar-salah saya adalah saya'.</p>
<p><strong>8 Kunci di Kehidupan ala Semrawut</strong></p>
<ol>
<li>Kejujuran</li>
<li>Kegagalan awal kesuksesan</li>
<li>Bicara dengan niat baik</li>
<li>Pola pikir kekinian</li>
<li>Komitmen</li>
<li>Tanggung jawab</li>
<li>Sikap luwes</li>
<li>Hidup seimbang</li>
</ol>
<p>baik, sekarang kita bicara tentan <strong>sistem pembelajaran</strong> di Indonesia (<em>kebanyakan</em>)</p>
<p>jika dikelompokkan sistem pembelajaran <strong>behaviouristik </strong>adalah yang:</p>
<blockquote><p>mempunyai pengetahuan yang bisa dibilang objektif, pasti, tetap dan yang itu2 saja<br />
sistem pembelajaran didasarkan atas kapasitas pengetahuan yang diperolah<br />
dan juga caranya seperti 'hanya' mentransfer pengetahuan kepada orang yang diajar<br />
diri sendiri difungsikan sebagai alat penjiplak struktur pengetahuan</p></blockquote>
<p>trus yang <strong>konstruktivistik </strong>bisa dikatakan seperti ini:</p>
<blockquote><p>pengetahuan yang didapat selalu berubah, entah itu penyampaian dan temporeritas<br />
pemaknaan atas pengetahuan lebih ditutamakan<br />
didasari oleh hal tersebut, kita akan menggali makna seluas dan sedalam mungkin<br />
Mind berfungsi sebagai alat menginterpretasi sehingga muncul makna yang unik</p></blockquote>
<p>oleh karena itu muncul perbedaan pada siswa yang sistem pembelajarannya behaviouristik dan tidak,</p>
<p>yang behaviouristik (si A, red) dihadapkan dengan masalah bahwa ia harus mempunyai pemahaman yang sama dengan apa yang diberikan oleh si pengajar, sedangkan yang tidak (sebut saja si B, red) bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih dan berbeda dari yang diajarkan.</p>
<p>si A juga di ajarkan bahwa di dunia ini sudah tersusun rapi, terstruktur secara sistematis, dan pengetahuannya juga tersusun rapi. sedangkan si B dapat memahami bahwa segala sesuatu bersifat temporary, berubah dan tidak tentu. dan manusialah yang memberi makna atas realitas.</p>
<p>mungkin juga si A pada waktu belajar dihadapkan pada aturan2 yang ditentukan lebih dulu dan ketat, dan pembiasaan disiplin adalah sebagai faktor utama. trus si B dihadapkan dengan lingkungan belajar yang bebas karena kebebasan adalah hal yang penting dalam pembelajaran.</p>
<p><strong>behaviouristik </strong>juga mempunyai ciri ciri sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Kegagalan atau ketidak-mampuan dalam menambah pengetahuan dikategorikan sebagai KESALAHAN, HARUS DIHUKUM</li>
<li>Keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas dipuji atau diberi HADIAH</li>
<li>Ketaatan kepada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan Kontrol belajar dipegang oleh sistem di luar diri si-belajar</li>
<li>Tujuan pembelajaran menekankan pada penambahan pengetahuan<br />
<em>'Seseorang dikatakan telah belajar apabila mampu mengungkapkan kembali apa yang telah dipelajari'</em></li>
</ul>
<p>sedangkan <strong>konstruktivistik</strong>:</p>
<ul>
<li>Memandang sebuah kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu DIHARGAI</li>
<li>Kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan Kontrol belajar dipegang oleh si-belajar</li>
<li>Tujuan pembelajaran menekankan pada penciptaan pemahaman, yang menuntut aktivitas kreatif-produktif dalam konteks nyata</li>
</ul>
<p>trus,</p>
<p>Sosok manusia yang bagaimana yang akan dihasilkan oleh pembelajaran yang Behavioristik? trus Konstruktivistik?<br />
Akapah mereka mampu menghadapi tantangan Melinium baru? Kesemrawutan global?</p>
<p>si A mempunyai ketrampilan terisolasi, mengikuti urutan kurikulum ketat, dan segala aktivitas mengacu pada teks atau buku, penekanan kepada hasil, mempunyai respon pasif, menuntuk hanya satu jawaban, dan proses evaluasi adalah sebuah bagian yang terpisah dari pembelajaran.</p>
<p>sedangkan si B mempunyai penggunaan pengetahuan secara bermakna, mengikuti pandangan si-belajar, aktivitas belajar dalam konteks nyata, menekankan pada proses, penyusunan makna secara aktif,menuntut pemecahan ganda, dan menekankan proses evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar</p>
<p>sebuah proposisi yang berkaitan dengan pembelajaran bisa disebutkan di bawah ini:</p>
<p><strong>bahwa belajar adalah mempelajari sesuatu yang baru</strong></p>
<ul>
<li>Dorong munculnya diskusi pengetahuan yang dipelajari</li>
<li>Dorong munculnya berpikir divergent, bukan hanya satu jawaban benar</li>
<li>Dorong munculnya berbagai jenis luapan pikiran/aktivitas</li>
<li>Tekankan pada keterampilan berpikir kritis</li>
<li>Gunakan informasi pada situasi baru</li>
</ul>
<p><strong>kebebasan merupakan unsur penting dalam belajar</strong></p>
<ul>
<li>Sediakan pilihan tugas</li>
<li>Sediakan pilihan cara memperlihatkan keberhasilan</li>
<li>Sediakan waktu yang cukup memikirkan dan mengerjakan tugas</li>
<li>Jangan terlalu banyak menggunakan tes yang telah ditetapkan waktunya</li>
<li>Sediakan kesempatan berpikir ulang</li>
<li>Libatkan pengalaman konkrit</li>
</ul>
<p><strong>Strategi belajar yang digunakan menentu-kan proses dan hasil belajarnya</strong></p>
<ul>
<li>Berikan kesempatan untuk menerapkan cara berpikir dan belajar yang paling cocok dengan dirinya</li>
<li>Berdayakan melakukan evaluasi diri tentang cara berpikirnya, cara belajar, atau lainnya</li>
</ul>
<p><strong>Motivasi dan usaha mempengaruhi belajar dan unjuk-kerja</strong></p>
<ul>
<li>Motivasilah dengan tugas-tugas riil dalam kehidupan sehari-hari dan kaitkan tugas dengan pengalaman pribadi</li>
<li>Dorong  untuk memahami kaitan antara usaha dan hasil</li>
</ul>
<p><strong>Belajar pada hakekatnya memiliki aspek sosial.</strong><br />
(Kerja kelompok sangat berharga)</p>
<ul>
<li>Beri kesempatan untuk melakukan kerja kelompok</li>
<li>Dorong untuk memainkan peran yang bervariasi</li>
<li>Perhitungkan proses dan hasil kerja kelompok</li>
</ul>
<p>sumber: <em>materi Universitas Negeri Malang</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KECERDASAN PLUS KARAKTER]]></title>
<link>http://lumansupra.wordpress.com/?p=182</link>
<pubDate>Sun, 20 Apr 2008 10:11:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>lumansupra</dc:creator>
<guid>http://lumansupra.wordpress.com/?p=182</guid>
<description><![CDATA[Russell T. Williams (Jefferson Center For Character Education-USA)
Ratna Megawangi (Indonesia Herita]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Russell T. Williams (Jefferson Center For Character Education-USA)</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Ratna Megawangi (Indonesia Heritage Foundation)</strong></p>
<p>Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, <strong>Character Educator</strong>, yang diterbitkan oleh <strong>Character Education Partnership</strong>.</p>
<p>Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-seko<!--more-->lah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.</p>
<p>Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.</p>
<p>Sebuah buku yang baru terbit berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ).</p>
<p>Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.</p>
<p>Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah.</p>
<p>Namun masalahnya, kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak, dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. Akibatnya sejak usia dini, sebagian besar anak-anak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”, sebagai anak yang kurang pandai. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter, dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya.</p>
<p>Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri, akan menimbulkan stress berkepanjangan. Pada usia remaja biasanya keadaan ini akan mendorong remaja berperilaku negatif. Maka, tidak heran kalau kita lihat perilaku remaja kita yang senang tawuran, terlibat kriminalitas, putus sekolah, dan menurunnya mutu lulusan SMP dan SMU.</p>
<p>Jadi, pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk dilakukan. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD, SMP dan SMU, maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. Kami ingin mengutip kata-kata bijak dari pemikir besar dunia. Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu “education without character”(pendidikan tanpa karakter). Dr. Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus character….that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter….itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat).</p>
<p>source: ihf-org.tripod.com</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Life's Changing Tunes -1]]></title>
<link>http://prempiyush.wordpress.com/?p=568</link>
<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 18:47:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>Prem Piyush</dc:creator>
<guid>http://prempiyush.wordpress.com/?p=568</guid>
<description><![CDATA[Life sings, as you play the life&#8217;s keyboard. 
 While playing, it changes the tunes of life, an]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#003300">Life sings, as you play the life's keyboard. </font></p>
<p><font color="#003300"> While playing, it changes the tunes of life, and makes the ultimate song, as per you stroke the keys. But many a times song changes its own tunes, in spite of the fact that  you <i>seemed to </i>press the right key. </font></p>
<p><font color="#003300">My Parker is missing now a days (this was second one) so found again the keyboard , in fact querty board, which will note down the tones of life, which I wish show off or share with you. Its the right time to this right thing, as life always wants something more . Munnabhai bole to - "Yeh life maange more :)"  Though chronological presentation will delay the writing, so at first I will write as it comes to memory. Later on the arrangement may be done.</font></p>
<p><font color="#003300">To start with, there were the morning at  NIMHANS, sharp 9 AMs, where I was a project trainee. Sunday and Monday did not make any difference as per my own choice. The work was at my best and to the satisfaction of my guide. I wanted to make a research kinda project work, instead of doing like "<i>cut-copy- (modify)- paste job</i>" of many of the computer science students' project. Yeah I heard about IITians too, who has mastered this art (not science) . I was working hard at lab - yeah the same technology I have mastered today for bread and butter. The days passed on. And I had to submit the report.  I submitted my report, in want of best marks. And one day I was waiting for my turn to come for Project viva...</font></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Education systems]]></title>
<link>http://happyepin.wordpress.com/?p=6</link>
<pubDate>Fri, 15 Feb 2008 03:10:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>happyepin</dc:creator>
<guid>http://happyepin.wordpress.com/?p=6</guid>
<description><![CDATA[Schooling occurs when society or a group or an individual designs a curriculum to educate people, us]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span><font size="3" face="Times New Roman">Schooling occurs when society or a group or an individual designs a </font><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Curriculum" title="Curriculum"><font size="3" face="Times New Roman">curriculum</font></a><font size="3"><font face="Times New Roman"> to educate people, usually the young. Schooling can become systematic and thorough. Sometimes education systems can be used to promote doctrines or ideals as well as knowledge, which is known as social engineering. This can lead to political abuse of the system, particularly in totalitarian states and government.</font></font></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Inspiring Brigade]]></title>
<link>http://prempiyush.wordpress.com/2007/07/17/inspiring-brigade/</link>
<pubDate>Mon, 16 Jul 2007 19:56:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Prem Piyush</dc:creator>
<guid>http://prempiyush.wordpress.com/2007/07/17/inspiring-brigade/</guid>
<description><![CDATA[Brigade Road, Bangalore - the young Bangy junta&#8217;s evening walking lane. Do find babes and blon]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Brigade Road, Bangalore - the young Bangy junta's evening walking lane. Do find babes and blondes, clear Lee stickers on back of jeans and you may read or of course watch nice quotes on t-shirts. Guys from all over India messing there up. The national gen-X integration at its best.</p>
<p>Once upon a time, but not long back, when I was in Bangalore in my student days  for project and I used to be there once in a while, and I too did stroll on the same road (but never without a genuine productive reason). And I thought, I will comeback when I start earning good money and have some friends of mine.</p>
<p>After 4 years, few days back, I was there again with Ma for shopping purpose. And told her that, when I used to be student here, I had thought when I would get job, will come there often with friends( to confess, possible with some good girls). We laughed, as the day never came.</p>
<p>Now in more than one year in the Bangalore job, not even a single day even on weekends, I could be there even I have several of good friends here.</p>
<p>In reality, where all those walking (hands in hands) wishes went off in air ? Looking back into the year, those weekends were dedicated to either my personal works (again same washing, cleaing, cooking and ironing) or Yoga Retreat ( 3 levels ) and FOLK classes at ISKCON and our Batulda group works.</p>
<p>The student did not get away from me ! I told Ma, that there is a student in me dying hard to sit in a class for hours again. Why ? There are two main possible reasons. First reason is my past decision to leave the conventional class education system after 10+2 and take up postal education left a vacuum of college or university student. The other reason is hereditary, when I am still seeing my Ma reading like a student and managing school accounts like a accounts student. And at verandah there is non-book reader, my father, immersed in new-papers for hours, picking each trivial news.</p>
<p>There remains such students in some persons,who are restless. I am not alone - there are more around me. Mom tells such people never feel grown up - they try to grow up as student forever.</p>
<p>Even after my 30 summers as well as winters, in the autumns, grew a student: who loves to sit on class-room benches after job hours. I am loving to get a little chance to be a student again for next few months. And I want to compete with most others, and want to feel happy when I do answer sometimes ahead of others. I want to make a special impression and of course I want to learn a lot. To say there is a feeling deep inside that I did not sit on the benches so consciously earlier.</p>
<p>Aha, coming back to main point of t-shirt blondie, to me, a chance, when I will stroll on the Brigade Road, hands in hands with a girl did never ever come. And the fact flows swiftly and when the wishes of Brigade Road do merge into the Wall Street, the student, keeps walking.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nothing but attitude counts - Freshers' software jobs]]></title>
<link>http://prempiyush.wordpress.com/2007/06/06/ignou-or-iit-nothing-but-attitude-counts/</link>
<pubDate>Wed, 06 Jun 2007 21:11:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Prem Piyush</dc:creator>
<guid>http://prempiyush.wordpress.com/2007/06/06/ignou-or-iit-nothing-but-attitude-counts/</guid>
<description><![CDATA[For last more than 8 months, this never met brother of mine, (another IGNOU student) was my second ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>For last more than 8 months, this never met brother of mine, (another IGNOU student) was my second 'scolded' fresher in the job market. First one 'Pra...' is happy with her Accenture job.I like to associate myself with these guys, whenever I find time.  What I see in these guys / girls- is their attitude to come up all odds and the tendency to win and win. Best organisations need 'only' them.</p>
<p>Here is the letter of the same guy I received now. Same feeling arose after receiving 'Pra...' SMS "Bhaiya, I got a job in Accenture ! ". And I almost jumped my seat. She got the job, few days before she was about to return back to UP.</p>
<p>For the time being, I am reproducing unedited letter received today for other freshers to read, though 'Abhi..' never knew this letter will go public ever ....</p>
<p><em> Hello Dada,<br />
I have a very good news. I have gotten a job over here at Noida in CSC<br />
(Computer Sciences Corporation) at the position of SAP Basis Administrator.<br />
The Company shall provide all the necessary training and for that i had to sign<br />
off a bond of two years with the firm.</em></p>
<p><em>Dada I owe you a lot, it's because of you that I have been able to aquire<br />
this job. It's your motivation and guidance because of which I have been able to<br />
prepare, revise and learn many different technologies simultaneously and it's only<br />
because of this reason that it didn't take me long to revise Oracle based on which<br />
this interviw took place. In the last whole month I appeared in atleast 3 rounds<br />
of technial interviewin this firm and finally I got selected. My office is also<br />
now very close from my residence. In a way it is very good that I didn't have to<br />
relocate to Bangalore coz my parents require my attention here a lot more than ever<br />
now. My father especially coz he has been put on Insulin Shots since last two months.<br />
I have only one regret now I wanted to meet you in person which didn't happen. But<br />
I am sure it will happen soon some time. Dada if you ever happen to cook some plan<br />
of coming over to Delhi even for once please let me know. I am very eagerly waiting.<br />
Also if I ever happen to visit bangalore or surrounding area's ever I will most<br />
certainly intimate you, and we will meet. ok dada. Please keep in touch. By the<br />
way, I forgot to ask you dada. How is everything going on? How is everyone in your<br />
family doing? please reply soon. waiting eagerly to hear from you.</em></p>
<p><em>Regards<br />
Abhi....</em></p>
<p>Hope none goes unguided. Few more guys are under construction...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sarva Siksha Abhiyan - the execution reality]]></title>
<link>http://prempiyush.wordpress.com/2007/04/11/sarva-siksha-abhiyan-the-execution-reality/</link>
<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 03:41:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>Prem Piyush</dc:creator>
<guid>http://prempiyush.wordpress.com/2007/04/11/sarva-siksha-abhiyan-the-execution-reality/</guid>
<description><![CDATA[The children are about to follow the parents – as they are born of illiterate parents forming a va]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:14px;color:#0d324f;">The children are about to follow the parents – as they are born of illiterate parents forming a vast class of Indian illiterate, somnolent society. As our integral part of society, this class spends nights in the murkiness of huts and slums. A grotesque persona of another Indian – to form an uncivilized massed of developing country. With them along us, we economic reform advocates have compunction about ground realities.</span></p>
<p><span style="font-size:14px;color:#0d324f;">While for our developing country, visualizing vision 2020, is daunted by this mass of children, who are currently in the age group of 5- 10 (supposed to be in class I - V), and by the year 2020, they will form the youth aged 18 to 23. Govt. policies of Sarva Siksha Abhiyan (SSA) as planned in the communiqué, if implemented properly, will make some difference by that time – I am sure.</span></p>
<p><span style="font-size:14px;color:#0d324f;">Evidently as I have seen my last home trip, the managing the Abhiyan is a challenge with the available man-power and additional contractual positions. When the locally elected persons serve voluntarily in the school governing body, the concerted execution of the program was thought to be smooth. Worth to add is, currently financial assistance available in these programs, with transparency, hence details need not secluded, seems far better, compared to trifle funds available earlier for doing so.</span></p>
<p><span style="font-size:14px;color:#0d324f;">As the are funds available and given the nature of planned spending, brings sometimes management problems, when govt. bodies gets embroiled with locally elected management representative bodies. The challenges arises, when these representatives, from ‘quota’s turn out logically blunt/twisted. At this situations, there requires not being martinet, but authoritativeness and skillful manoeuvering  of surreal meeting situations.</span></p>
<p><span style="font-size:14px;color:#0d324f;">At the ground level, still the manual trumpery documentation and accounting process is underway in these programs. And this is really time and productive time consuming. These most of the bland junk of paper-works forms the heap in the govt. offices, that needs to be cleaned fast. Otherwise just paper works are not supposed to deliver a fecund SSA.</span></p>
<p><span style="font-size:14px;color:#0d324f;">The assiduity of the teacher’s efforts as chain link between policies on paper – the beneficiary children – funds and pedagogues may show some results in near future.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
