<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>heroisme &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/heroisme/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "heroisme"</description>
	<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 18:38:23 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Perubahan Paradigma Gerakan Mahasiswa:“Syarat Revolusi Massa”]]></title>
<link>http://ressay.wordpress.com/?p=811</link>
<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 11:01:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>ressay</dc:creator>
<guid>http://ressay.fr.wordpress.com/2008/06/30/perubahan-paradigma-gerakan-mahasiswa%e2%80%9csyarat-revolusi-massa%e2%80%9d/</guid>
<description><![CDATA[
Sekelompok orang menumpang sebuah perahu, berlayar di laut, membelah gelombang. Masing-masing menda]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><a href="http://ressay.files.wordpress.com/2008/06/reformasi98.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-812" src="http://ressay.wordpress.com/files/2008/06/reformasi98.jpg" alt="" width="350" height="217" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><em><span lang="SV">Sekelompok orang menumpang sebuah perahu, berlayar di laut, membelah gelombang. Masing-masing mendapatkan tempat duduk. Salah seorang dari para musafir itu, menyatakan bahwa tempat duduknya adalah miliknya, mulai membuat</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><em><span lang="IN">sebuah lubang di bawah tempat duduknya dengan sebuah alat tajam. Andaikata para musafir itu tak segera menahan tangannya dan mencegahnya dari berbuat demikian, tentu mereka semua, termasuk si celaka itu, akan terancam tenggelam.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><span lang="IN">[Rasulullah Muhammad SAW]<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></strong>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dengan indahnya, Sang Revolusioner Nabiyullah Muhammad SAW mengilustrasikan hubungan antara individu, masyarakat, dan proses penyempurnaan hidup yang tak terpisahkan di antara keduanya. Muhammad SAW tidak hanya memandang peranan individu (pribadi) dalam kehidupan, tapi juga massa (ummat). Demikian akhirnya, dalam <em>dienul</em>-<em>Islam</em>, setiap individu tidak saja memiliki tugas untuk beribadah yang bersifat individual, akan tetapi juga bersifat massal. Ibadah tidak hanya dilakukan oleh pribadi, tapi juga oleh masyarakat. Sampai akhirnya, rupanya kategori dosa pun tidak bersifat personal <em>an sich</em>, tapi banyak di antaranya yang disebut dosa sosial....</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Demikianlah, proses penyempurnaan hidup itu sendiri pada dasarnya dilakukan melalui proses interaktif satu sama lain. Karena, pembagian individu dan masyarakat ini hanya berada pada wilayah konsepan (persepsi), sementara dalam realitasnya satu sama lain sulit dipisahkan, maka mencapai kesempurnaan itu sendiri akhirnya menuntut kerja masyarakat. Hingga di sini dapat disimpulkan bahwa tugas perubahan sosial dalam mencapai <em>maslahat</em> itu sesungguhnya menjadi tugas masyarakat di tiap zamannya. Bahkan, tidak hanya temporer, tugas suci ini sesungguhnya diemban secara bersama-sama oleh masyarakat di tiap dan dari zaman ke zaman berikutnya. Inilah tugas sepanjang hayat kemanusiaan bagi seluruh generasi manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kendati begitu, pada tataran realitasnya, tentu saja peranan itu dibagi berdasarkan kapasitas yang dimiliki komponen pada sekelompok manusia. Dalam artian, sungguh naïf mengharapkan akan dijalankannya suatu peranan sosial, sementara komponen itu sendiri tidak memiliki kapasitas yang bersesuaian untuk menjalankan hal ini. Karena itu, selalu saja ada tuntutan berbeda bagi kelompok <em>raushanfikr </em>(tercerahkan) dan belum tercerahkan dalam mengemban tugas perubahan. Bagai sekawanan nabi yang memikul tugas kenabiannya, komponen ini sesungguhnya tergolong pewaris tahta kenabian, yang pada intinya sama-sama memikul tugas menggerakkan perubahan sosial di tengah masyarakat demi terciptanya kesempurnaan jiwa kemanusiaan. Dalam mushaf al-Qur’an, mereka ini disebut sebagai <em>ulil</em>-<em>albab</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Oleh karena keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari kepemilikan ilmu (<em>‘ulama</em>) dan gelora cinta di dada akan cahaya kebenaran, maka dapat diprediksikan bahwa mereka ini tergolong ke dalam kaum terpelajar. Dalam domain keindonesiaan, mereka ini boleh jadi merupakan para mahasiswa. Ini bisa jadi terlampau berlebihan, karena itu ada beberapa catatan penting terkait dengan keberadaan kelompok dimaksud, akhir-akhir ini. Meski begitu, wujud mungkin berupa potensi besar gerakan mahasiswa untuk menjalankan tugas sosial, tentu tak hilang begitu saja. Wujud mungkin itu adalah kekuatan dahsyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kenapa demikian? Karena, jika mengikuti alur berpikir <em>common</em>-<em>sense</em>, mahasiswa adalah kelas menengah tercerahkan, antara rakyat kebanyakan dan negara, hasil seleksi dari suatu komunitas masyarakat urban. Konstituen, budaya, dan struktur yang berkembang di dalamnya <em>punya </em>konotasi ilmiah-rasional dan intelektualisme, sehingga ditempeli banyak <em>embel</em>-<em>embel </em>kesucian moralitas, kecendekiaan, dan heroisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kendati begitu, ada banyak pembahasan yang mungkin subversif jika diketengahkan di sini (tapi tak apa, sebab, <em>kulil</em>-<em>haqqo</em>-<em>walau</em>-<em>kaana</em>-<em>murron</em>). Potensi revolusionernya (mahasiswa) mungkin karena masa pubertas mereka yang ‘<em>gue banget</em>!’ bisa menggoyahkan tatanan sosial-budaya bangsa. Lepas dari jelas atau tidaknya pandangan dunia mereka, semua perilaku mereka menjadi elitis dan <em>ya </em>itu tadi ‘ilmiah’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sebagai missal, ketika masih termasuk golongan pelajar (sekolah formal), tawuran mereka adalah bagian dari ikatan group, diilmiahkan dalam istilah nakalnya anak muda, sasarannya adalah sesama pelajar. Setelah jadi mahasiswa, sasaran beralih ke polisi dan disebut sebagai wujud radikalisme. <em>Keren abis dah</em>! <em>Kalo </em>pelajar dapat nilai <em>jeblok</em>, disebut bodoh, sedangkan mahasiswa dapat nilai D, itu disebut karena aktivitas. Jadi, kadang agak bias juga antara demonstrasi sebagai sikap peduli rakyat. Karena, bisa juga <em>emoh </em>kuliah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Apakah pada praktiknya nilai-nilai idealisme terintegrasi dalam tubuh aktivis mahasiswa atau tidak, perlu kita kritisi. Artinya, banyak faktor yang membuat mahasiswa seperti itu. Sistem percepatan kuliah produk propaganda rektorat agar kampusnya bisa di-cap sebagai lembaga disiplin. Lembaga disiplin tubuh bonafid yang bisa meluluskan mahasiswa dalam kurun waktu 3 tahun, <em>plus </em>embel-embel <em>cum laude</em>. Ditambah fenomena elite penguasa untuk menumpulkan kritisisme dengan cara menaikkan harga masuk kuliah yang <em>nyusahin </em>ortu, <em>plus </em>tradisi keluarga yang stress, kenapa anaknya belum lulus-lulus, belum <em>dapet </em>calon mantu, dan gurita kapitalisme global yang lebih menyukai tipe mahasiswa taat dan professional, siap menjadi boneka pabrik, yang kudu <em>link and match </em>dengan dunia hasil rekayasa <em>korporasi trans</em>-<em>internasional </em>dan negara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Lihat tubuh bongsor mahasiswa, badan mereka membesar dan dewasa, jauh <em>banget</em> dibanding mahasiswa era dahulu, tapi itu akibat suntikan hormonal dan ekstraksi multivitamin ditambah makanan suplemen dan KFC. Tidak alamiah. Mereka juga besar dalam aksi jalanan, sebagai simbol ‘peduli’ pada nasib bangsa dengan menjual air mineral gelasan, atau <em>nongkrongin </em>perempatan bawa bendera dan kardus indomie yang bertuliskan, “Kencleng Sumpah Pemuda”. Semua itu adalah aktualisasi hasil lobbby antara senior almamater dan organisasinya. Jalanan <em>rame</em>, tapi penuh dengan retorika kosong, emosi labil dan miskin ide orisinil. Suka <em>ngomong </em>revolusi dan pakai kaos Che Guevara di mall-mall dan kafe, tanpa paham betul apa itu revolusi, <em>gimana</em> nyusunnya, <em>gimana </em>mimpinnya, pokoknya <em>funky</em>, asal beda dengan situasi kondisi sosial politik sekarang, itulah revolusi. </span><span lang="SV">Absurd <em>banget</em>!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Maka, tidak salah bila rakyat tidak mengerti <em>omongan </em>mereka. Sebab, mereka bukan lagi berasal dari rakyat, melainkan telah menjadi <em>jongos </em>elite. Kalaulah mereka sempat menjadi aksesoris sebuah perubahan sosial, tiada satupun dari mereka yang mengemuka sebagai ideolog. Mereka bisa ‘tidur’ dengan masyarakat dalam KKN atau protes Penggusuran Tanah. Sayangnya, seperti Santa Clauss, perilaku eksibisionis ini tidak menyentuh hati dan paradigma rakyat, melainkan sekedar mengubah dan menambah bentuk material saja. Yang tadinya memakai sungai sebagai jamban sekarang beralih ke MCK, atau mengecat mesjid, membuat nama jalan, pokoknya sama <em>dech </em>kayak AMD (ABRI Masuk Desa). Memang tidak salah, sebagaimana juga Santa Clauss, tidak salah membagi-bagi hadiah ke anak-anak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tapi, lain soal ketika mendudukan mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat dan kaum tertindas. Mahasiswa yang jauh dari massa rakyat ini jauh dari hati, semangat, bahasa, dan penderitaan bangsa. Kita bisa kalkulasikan seberapa banyak mereka masih berbicara soal <em>tek</em>-<em>tek bengek </em>kenegaraan ketimbang problem riil rakyat. Mengapa? Karena, bicara kebijakan pemerintah adalah bicara kursi yang mempengaruhi periuk nasi elite. Kemampuan berbicara tentang struktur yang tidak didukung dengan praksis (abstraksi ideologi yang bersentuhan langsung dengan perubahan sosial) hanya memproduksi aktivitas salon, <em>manekin </em>solek dan penumpulan rasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kalaulah muncul kesadaran tentang penderitaan rakyat, itu sifatnya temporer. Sama seperti masturbasi, kenikmatan sesaat, hasil manipulasi kesadaran. Kenapa? Sebab, tidak mungkin membela rakyat <em>sambil</em> <em>asyik </em>makan indomie, sedang di sisi lain sebagian besar rakyat menggantungkan hidup pada sawah-padi-beras? Padahal, makan nasi jauh lebih bergizi dan sehat ketimbang makan sebungkus indomie. Harganya juga lebih murah <em>koq</em>! Maka, tiba waktunya bagi kita mendekonstruksi paradigma dan sikap kosong seperti ini. Kesalahan terbesar mahasiswa adalah malas mengasah pemikiran, berdialektika dengan membaca dan berdiskusi, dan menyusun jaringan aktivitas. Ilmu tidak boleh dipahami sebagai wacana saja, “yang penting bisa lulus UAS!”. Tapi juga, mesti dikritisi dalam praktis sosialnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Umumnya, mereka <em>agak </em>sulit mau sadar berfikir sistem. Berfikir sistem itu adalah bagaimana menyusun program dan strategi ke depan. Wajar, bila setiap LDKM, LKMM, dan LKM, atau pembinaan di lembaga mahasiswa kampus cuma mengulang saja. Tidak ada kurikulum yang jelas buat pengkaderan di kampus. Beres jadi eksekutif, <em>balik</em> lagi kuliah. <em>Hihihh</em>, pensiun jadi aktivis <em>ya</em>, mas!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Padahal, yang namanya mengurus BEM itu kerjanya luar biasa besar. Kalau kita <em>mimpin </em>BEM, lalu bayaran kuliah tetap naik, anggota biasa <em>ga dapet </em>beasiswa, atau pemilihan rektor masih tidak melibatkan mahasiswa, <em>mending </em>BEM bubar saja. Jangan pernah berpikir mengatasi sistem negara yang <em>bobrok </em>kalau masalah kampus saja kita takut mengkritik Rektor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Mahasiswa harus punya kesadaran untuk membawa rakyat pada nilai-nilai transenden yang lebih luhur, lebih dari sekedar perubahan struktural (ganti pejabat) dan material. Tapi, sebelum sampai ke sana, mereka harus sabar membina diri menguatkan konsep berpikir-berdialektika-beraksi di diri mereka sendiri. Jangan <em>berkoar</em>-<em>koar </em>soal negara dan dunia jika kita tidak mau sedikit mengeluarkan keringat untuk mengasah logika dan memperkaya pisau analisa dengan membaca banyak buku. Apabila seseorang menetapkan bagi dirinya sendiri untuk mengadakan reformasi masyarakat, maka ia harus berbeda dengan rakyat biasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Ia tidak boleh memiliki kelemahan-kelemahan rakyat biasa. Sebuah hadits pernah mengatakan, “Orang yang hendak menjadi pengurus rakyat, haruslah pertama-tama mendidik dirinya, setelah itu mendidik rakyat. Seorang guru atau pelatih diri sendiri, lebih mulia dari seorang guru dan seorang pengurus bagi orang lain”. Revolusi bukan jamuan makan malam atau diskusi-diskusi sambil <em>pesen </em>Cafucino, <em>plus </em>kretek, <em>sembari </em>mengulang-ulang puisi WS. Rendra. Ingat, puisi <em>gak </em>pernah <em>bikin </em>revolusi, Bung!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Selain itu, mereka juga perlu mendekatkan diri dengan realitas masyarakat sebagai asal dan rumah mereka menimba ilmu. Jujur saja, jika pendidikan kita disubsidi oleh rakyat, yang tidak lain dan tidak bukan adalah orang tua kita sendiri, dan menyadari hal ini semua, mereka (mahasiswa) baru bisa menjadi titik api yang berfungsi sebagai sumber kehidupan yang membakar, mencerahkan, dan menggerakkan rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dengan penelaahan kritisnya, kehadiran mereka seperti cahaya, terang menerangi dirinya dan menerangi susuatu di luar dirinya. Seperti dikutip dalam Kitab Verdata, “Orang besar itu seperti lelaki yang mengusung pelita dalam kegelapan. Orang yang tidak memilikinya tidak punya pilihan lain, kecuali mendekat dan mengikutinya tanpa pamrih”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Tinggal sekarang, kita bicara soal hitung-hitungan waktu. Mengutip ucapan Mao Tse Dong, “Revolusi adalah momentum yang disusun dari seribu tahun pasukan, yang dipergunakan pada sebuah subuh!” Untuk menyusunnya, kita perlu perubahan paradigma dan kurikulum perkaderan di Ormawa. Dimulai dengan membangun kesadaran berpikir dan menambah ilmu dengan banyak membaca, menyusun kebiasaan berargumentasi yang benar dengan belajar logika, dan keterampilan praktis di lapangan yang untuk bisa diterapkan di masyarakat atau masa depan mahasiswa sendiri kelak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">Last but not least</span></em><span lang="IN">, ada baiknya kita kutip ucapan arsitek proklamasi kemerdekaan RI Bung Hatta, “Revolusi menggugurkan semua karat-karat, dan melonggarkan perbautan dari sistem. Setelah itu ia harus disusun kembali dengan segera!!!” Untuk itu, revolusi butuh pandangan yang luas dan wawasan yang padu. Revolusi bukan romantisme berleha-leha. Revolusi adalah kerja. Tinggal masalah waktu kapan kita menuainya. Kita tuai itu semua esok hari. Kalaupun kita tidak mengalaminya, biarlah anak-cucu kita yang merasakan segarnya dunia. Minimal, mereka (anak-cucu kita), tidak menyalahkan atau bahkan bersedih hati telah terlahir ke dunia, karena adegan seksual (entah karena dorongan nafsu syahwat atau ibadah) yang kita lakukan, yang mengakibatkan seorang perempuan mengandung benih manusia baru itu. Ingat Bung! kita tidak hidup untuk hari kemarin. Melainkan, untuk esok hari. Ingat, untuk esok hari! “<em>We’re living for tomorrow. Not for yesterday</em>”. Ayo Bung! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><em><span lang="IN">Marhaban ya Ramadhan</span></em><span lang="IN">. <em>Allahu Akbar</em> !!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span lang="IN">Di hari ke-3 shaum di Bulan Ramadhan yang biasa-biasa <em>aja</em> <em>tuh </em>(jangan <em>sok </em>jadi sufi <em>gitu lah</em>. Norak <em>tau</em>!).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span lang="IN">Saat para artis, pejabat, dan sebagian ustadz konyol berubah wujud menjadi seperti ‘malaikat’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span lang="IN">Saat sebagian orang menyatakan Ramadhan adalah bulan berkah. </span><span lang="FI">Rakyat miskin (muslim) <em>mah</em> menjerit susah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span lang="IN">Bagaimana mau berkah, mas. Harga BBM <em>tuh</em> naik. Pokoknya, multi-efek <em>lah</em>, yang kesimpulannya,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span lang="IN">“rakyat (penulis dan orang tua penulis yang juga muslim) <em>makin </em>sengsara!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Sumber: <a href="http://hmibandoeng.blogspot.com/2008/03/perubahan-paradigma-gerakan.html" target="_blank">HMI Bandung</a></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mahasiswa, Apa Yang Kau Cari? ]]></title>
<link>http://mancung64.wordpress.com/?p=12</link>
<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 07:19:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>mancung64</dc:creator>
<guid>http://mancung64.fr.wordpress.com/2008/06/09/mahasiswa-apa-yang-kau-cari/</guid>
<description><![CDATA[Cobalah duduk didepan Televisi dan tonton acara berita. Dalam satu hari tidak pernah terlewatkan ber]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><a href="http://mancung64.wordpress.com/files/2008/06/tigger1.gif"><img class="alignnone size-medium wp-image-13" src="http://mancung64.wordpress.com/files/2008/06/tigger1.gif?w=157" alt="" width="157" height="198" /></a>Cobalah duduk didepan Televisi dan tonton acara berita. Dalam satu hari tidak pernah terlewatkan berita aksi mahasiswa diberbagai penjuru Indonesia.Saya jadi menerawang kebeberapa waktu yang silam.Pada era 80-an, dimana mahasiswa mulai menggeliat bangun, setelah lama tertidur, demontrasi mahasiswa selalu membuat saya bangga dan terharu. Kasus Kedung Ombo, Peristiwa Yogya Berdarah, adalah sesuatu yang selalu tersimpan dalam memori saya sebagai kenangan tentang heroisme mahasiswa. Saat melihat mereka turun kejalan dada saya selalu bergetar, rasa bangga melihat keberanian mereka,terkadang sampai menetes air mata. Ini nyata, sungguh saya alami.Apa karena saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa dan berada diantara mereka? Entahlah. <!--more-->Namun, Semua itu perlahan memudar dan berangsur pupus kemudian dalam perjalanan panjang sang waktu, banyak hal yang saya ketahui belakangan. Ada beberapa nama yang saya kenal dan juga ada teman baik saya, yang aktif demo dan aktif keluar masuk hotel prodeo, aktif bolos kuliah dan rajin berpindah kampus untuk sekedar mendapatkan status mahasiswa sebagai sertifikat keikut sertaan berdemo. Sampai saya lulus kuliah,teman saya ini masih sibuk dengan organisasi ini dan tetap melanjutkan hobbynya berdemo.Saya tidak pernah dengar lagi tentang nasib kuliahnya.Tapi hebatnya dia bisa keliling Indonesia, bahkan keluar negeri dan kenal dengan tokoh-tokoh besar, karena hobbynya ini. Tahun 1993, teman saya ini sempat berkunjung ke Australia, dan membawa boneka kangguru untuk saya. Terakhir saya bertemu dia th 1997,dia masih penuh dengan ambisi dan obsesi. Kabarnya sekarang dia menetap di Jakarta.Dan saya tidak tahu lagi perkembangannya. Th 1998, reformasi bergulir, juga jasa mahasiswa. Masih ada heroisme,ditandai dengan tragedi Trisakti. Tapi kenapa sekarang mahasiswa kehilangan sopan santun?? Sebenarnya kepentingan siapa yang dibela mahasiswa ketika peristiwa mahasiswa Makasar bentrok dengan warga karena warga bosan dengan demo mahasiswa yang cukup mengganggu warga,kenapa sulit membedakan mahasiswa dengan preman? Selalu memaksakan kehendak dengan memblokir jalan,membakar ban, merusak infra struktur yang dibangun dengan uang rakyat,merusak kampus, gedung pemerintahan, dan sederet tindakan anarkhis lainnya.Apa yang kau cari? Kemana intelektualitas? Kemana budaya ketimuran ? Mestinya orang yang berpendidikan tingkat tinggi akan lebih piawai memanage emosi dan menata hati,serta bersikap bijak dan santun sehingga apa yang ingin kita sampaikan bisa diterima audiens dengan baik. Berjuang harus punya strategi, supaya pengorbanan tidak sia-sia. Ditangkap polisi, masuk penjara, drop out kuliah,menyusahkan orangtua dan keluarga serta masa depan yang tidak pasti, itukah yang kau cari? Tidak semua demonstran bernasib baik seperti teman saya. Akan jadi apa negeri ini nantinya kalau generasi mudanya hanya menghabiskan waktu dijalanan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[mai 68]]></title>
<link>http://lecheminsouslesbuis.wordpress.com/?p=186</link>
<pubDate>Fri, 02 May 2008 07:36:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>lecheminsouslesbuis</dc:creator>
<guid>http://lecheminsouslesbuis.fr.wordpress.com/2008/05/02/mai-68/</guid>
<description><![CDATA[C&#8217;est amusant, tous ces discours sur Mai 68, tous ces articles, tous ces bouquins &#8230; je n]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>C'est amusant, tous ces discours sur Mai 68, tous ces articles, tous ces bouquins ... je ne sais pas trop ce qu'en auraient pensé ces mecs et ces filles des barricades ... sais pas non plus ce qu'ils auraient pensé, à l'époque, de ce qu'ils sont devenus aujourd'hui ... De toutes les analyses que j'ai pu parcourir (oui, pour certaines, seulement parcourir parce qu'il faut bien dire que beaucoup d'entre elles sont particulièrement chiantes et prétentieuses), c'est encore celle ci, de "droite" (signée Alain de Benoist), que je trouve la plus pertinente même si l'auteur oublie, à mon sens, une des composantes intéressantes du mouvement de contestation, celle qui a donné le mouvement hippie et dont la démarche était de  retrouver de très anciennes racines, traditions, états de conscience (la nôtre, quoi ...):</p>
<p>"<span class="postbody">La commémoration de Mai 68 revient tous les dix ans, avec la même marée de livres et d’articles. Nous en sommes au quatrième épisode, et les barricadiers du « joli mois de mai » ont aujourd’hui l’âge d’être grands-pères. Quarante après, on discute toujours pour savoir ce qui s’est exactement passé durant ces journées-là – et même s’il s’est passé quelque chose. Mai 68 a-t-il été un catalyseur, une cause ou une conséquence ? A-t-il inauguré ou simplement accéléré une évolution de la société qui se serait produite de toute façon ? Psychodrame ou « mutation » ?</span></p>
<p>La France a le secret des révolutions courtes. Mai 68 n’a pas échappé à la règle. La première « nuit des barricades » eut lieu le 10 mai. La grève générale se déclencha le 13 mai. Le 30 mai, le général de Gaulle prononçait la dissolution de l’Assemblée nationale, tandis qu’un million de ses partisans défilaient sur les Champs-Elysées. Dès le 5 juin, le travail reprenait dans les entreprises, et quelques semaines plus tard, aux élections législatives, les partis de droite remportaient une victoire en forme de soulagement.</p>
<p>Par rapport à ce qui se déroula à la même époque ailleurs en Europe, on note tout de suite deux différences. La première, c’est qu’en France Mai 68 ne fut pas seulement une révolte étudiante. Ce fut aussi un mouvement social, à l’occasion duquel la France fut paralysée par près de 10 millions de grévistes. Déclenchée le 13 mai par les syndicats, on assista même à la plus grande grève générale jamais enregistrée en Europe.</p>
<p>L’autre différence, c’est l’absence de prolongement terroriste du mouvement. La France n’a pas connu de phénomènes comparables à ce qu’ont été en Allemagne la Fraction armée rouge (RAF) ou en Italie les Brigades rouges. Les causes de cette « modération » ont fait l’objet de nombreux débats. Lucidité ou lâcheté ? Réalisme ou humanisme ? L’esprit petit-bourgeois qui dominait déjà la société est sans doute l’une des raisons pour lesquelles l’extrême gauche française n’a pas versé dans le « communisme combattant ».</p>
<p>Mais en fait, on ne peut rien comprendre à ce qui s’est passé en Mai 68 si l’on ne réalise pas qu’à l’occasion de ces journées deux types d’aspirations totalement différentes se sont exprimés. A l’origine mouvement de révolte contre l’autoritarisme politique, Mai 68 fut d’abord, indéniablement, une protestation contre la politique-spectacle et le règne de la marchandise, un retour à l’esprit de la Commune, une mise en accusation radicale des valeurs bourgeoises. Cet aspect n’était pas antipathique, même s’il s’y mêlait beaucoup de références obsolètes et de naïveté juvénile.</p>
<p>La grande erreur a été de croire que c’est en s’attaquant aux valeurs traditionnelles qu’on pourrait le mieux lutter contre la logique du capital. C’était ne pas voir que ces valeurs, de même que ce qu’il restait encore de structures sociales organiques, constituaient le dernier obstacle à l’épanouissement planétaire de cette logique. Le sociologue Jacques Julliard a fait à ce propos une observation très juste lorsqu’il a écrit que les militants de Mai 68, quand ils dénonçaient les valeurs traditionnelles, « ne se sont pas avisés que ces valeurs (honneur, solidarité, héroïsme) étaient, aux étiquettes près, les mêmes que celles du socialisme, et qu’en les supprimant, ils ouvraient la voie au triomphe des valeurs bourgeoises : individualisme, calcul rationnel, efficacité ».</p>
<p>Mais il y eut aussi un autre Mai 68, d’inspiration strictement hédoniste et individualiste. Loin d’exalter une discipline révolutionnaire, ses partisans voulaient avant tout « interdire d’interdire » et « jouir sans entraves ». Or, ils ont très vite réalisé que ce n’est pas en faisant la révolution ni en se mettant « au service du peuple » qu’ils allaient satisfaire ces désirs. Ils ont au contraire rapidement compris que ceux-ci seraient plus sûrement satisfaits dans une société libérale permissive. Ils se sont donc tout naturellement rallié au capitalisme libéral, ce qui n’est pas allé, pour nombre d’entre eux, sans avantages matériels et financiers.</p>
<p>Installés aujourd’hui dans les états-majors politiques, les grandes entreprises, les grands groupes éditoriaux et médiatiques, ils ont pratiquement tout renié, ne gardant de leur engagement de jeunesse qu’un sectarisme inaltéré. Ceux qui voulaient entamer une « longue marche à travers les institutions » ont fini par s’y installer confortablement. Ralliés à l’idéologie des droits de l’homme et à la société de marché, ce sont ces rénégats qui se déclarent aujourd’hui « antiracistes » pour mieux faire oublier qu’ils n’ont plus rien à dire contre le capitalisme. C’est aussi grâce à eux que l’esprit « bo-bo » (« bourgeois-bohême », c’est-à-dire libéral-libertaire) triomphe désormais partout, tandis que la pensée critique est plus que jamais marginalisée. En ce sens, il n’est pas exagéré de dire que c’est finalement la droite libérale qui a banalisé l’esprit « hédoniste » et « anti-autoritaire » de Mai 68. Par son style de vie, Nicolas Sarkozy apparaît d’ailleurs, le tout premier, comme un parfait soixante-huitard.</p>
<p>Simultanément, le monde a changé. Dans les années 1960, l’économie était florissante et le prolétariat découvrait la consommation de masse. Les étudiants ne connaissaient ni le sida ni la peur du chômage, et la question de l’immigration ne se posait pas. Tout semblait possible. Aujourd’hui, c’est l’avenir qui paraît fermé. Les jeunes ne rêvent plus de révolution. Ils veulent un travail, un logement et une famille comme tout le monde. Mais en même temps, ils vivent dans la précarité et se demandent surtout s’ils trouveront un emploi après leurs études.</p>
<p>En 1968, aucun étudiant ne portait de jeans et les slogans « révolutionnaires » qui fleurissaient sur les murs ne comportaient aucune faute d’orthographe ! Sur les barricades, on se réclamait de modèles vieillis (la Commune de 1871, les conseils ouvriers de 1917, la révolution espagnole de 1936) ou exotiques (la « révolution culturelle » maoïste), mais au moins militait-on pour autre chose que pour son confort personnel. Aujourd’hui, les revendications sociales ont un caractère purement sectoriel : chaque catégorie se borne à réclamer de meilleurs salaires et de meilleures conditions de travail. « Deux, trois, plusieurs Vietnam ! », « Mettre le feu à la plaine », « Hasta la libertad, sempre ! » : cela ne fait évidemment plus battre les cœurs. Plus personne ne se bat plus pour la classe ouvrière dans son ensemble.</p>
<p>Le sociologue Albert O. Hirschman disait que l’histoire voit alterner les périodes où dominent les passions et celles où dominent les intérêts. L’histoire de Mai 68 fut celle d’une passion qui s’est dissoute dans le jeu des intérêts."</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nous sommes tous des comitards tibétains.]]></title>
<link>http://touspourun.wordpress.com/?p=12</link>
<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 23:26:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>topgars</dc:creator>
<guid>http://touspourun.fr.wordpress.com/2008/04/14/nous-sommes-tous-des-comitards-tibetains/</guid>
<description><![CDATA[La campagne bat son plein, les affiches fleurissent partout ainsi que les discutions très argument]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>La campagne bat son plein, les affiches fleurissent partout ainsi que les discutions très argumentées avec les militants autour d'un fût. Quelle aventure les amis !</p>
<p>Malheureusement, nous sommes victimes d'arrachages sauvages dans les rues de notre belle ville étudiante. Nos courageux larbins ont portés haut les couleurs de notre liste, jusqu'en des contrées reculées. Mais, insensibles à l'héroïsme de nos hérauts, des ennemis de l'Animation ont tenté de nous faire taire ! En effet, des hordes barbares non-identifiées ont arraché nos magnifiques affiches (bientôt un post avec les nouveaux slogans). Ces mesquins attentats contre notre liste sont à faire vomir (et pourtant Dieu sait si on aime ça)</p>
<p>En tout cas, voilà encore une belle preuve (si c'était encore à prouver) que l'Animation de la Catholique de Louvain court un péril mortel !  Non aux pratiques discriminatoires, et oui à le défense de nos intérêts !!</p>
<p>Avec TPU, le fête est plus belle.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[U' Å' Spille Fo'boll]]></title>
<link>http://daszimmer.wordpress.com/?p=49</link>
<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 20:07:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>daszimmer</dc:creator>
<guid>http://daszimmer.fr.wordpress.com/2008/04/14/u-o-spille-foboll/</guid>
<description><![CDATA[
Highlights fra kampen&#8230;
Omsider ser det ud til, at foråret har erobret overtaget fra det våd]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em><img src="http://i27.tinypic.com/okbtz6.jpg" alt="" /></em></p>
<p><em>Highlights fra kampen...</em></p>
<p>Omsider ser det ud til, at foråret har erobret overtaget fra det våde og blæsende vinterlige vejr, vi har haft de seneste måneder..</p>
<p>Og det betyder jo, at man, som en ung knøs, skal ud og røre benene lidt... Så da en ivrig Bach ringede og hørte, om Kenneth og jeg ville med ud og spille lidt fo'boll, hoppede vi med på vognen...</p>
<p>Roar, Asbjørn, Jens, Carl, Petter og fem andre fodbold-entutiaster dukkede også frem til en fodboldsession i Superliga klasse!</p>
<p>Stedet var parken ved Kvickly (Som egentlig ikke har noget navn... Fra nu af Kvickly-parken!), hvor disse 13 gæve vikinger skulle folde sig ud i fuld flor!</p>
<p>Banen var forholdsvis mudret - hvilket er en mild underdrivelse - og der var placeret et træ i midtercirklen, hvilket der jo som regel er på en fodboldbane, mens buskadser omringede banen...</p>
<p><img src="http://i29.tinypic.com/t883sk.jpg" alt="" width="400" height="267" /></p>
<p><em>Træ midt på banen... Det må være Old Trafford, ikke?..</em></p>
<p>Vi startede ud med lidt let træning, hvor Kenneth ikke formåede at ramme et frit mål en eneste gang ud af 900 skud... Det vedkendte realisten Kenneth, og han valgte at agere målmand, da vi startede ud med den "alvorlige" del af fodbolden...</p>
<p>Første runde var "Sort" mod "Resten af farverne", hvilket betød, at jeg røg på det sorte hold, da jeg i dagens anledning havde valgt et chict mørkt løbesæt som påklædning...</p>
<p>Det startede ganske forfærdenligt for mit spil, og jeg valgte ikke at ramme en eneste af mine medspillere i de første tyve minutter samtidig med, at jeg viste teknik som en nyfødt elg....</p>
<p>Men heldigvis havde vi "Furuseth" og "Xabi Alonso" på vores hold (Fik ikke fat på deres rigtige navne...), og de var helt sikkert blandt de bedste teknikere på banen...</p>
<p>Asbjørn "Erik Boye" Vad stod på mål i samspil med Anders "Shinji Ono" Roar og moi, hvilket Asbjørn og Roar slap bedst fra... Generelt kørte mit spil overhovedet ikke i første runde eksemplificeret gennem mit uheldige målmandsspil og et indlæg, der ramte mig hårdt i kronjuvelerne, så jeg brændte på et frit mål...</p>
<p><img src="http://i27.tinypic.com/hwjv60.jpg" alt="" /></p>
<p><em>A Kick In The Ball-Sack...</em></p>
<p>Efter første runde, som jeg rent faktisk tror vi vandt, blev det så til Humanistisk Informatik mod klatten, hvilket vil sige, at alle teknikerne kom på det modsatte hold...</p>
<p>"Okay, vi kan vist godt betegnes som underdogs", udtrykte Kenneth, og det var vi da utvivlsomt også... Men hvor vi manglede teknikken, havde vi fight og hjerte som var vi Herfølge Boldklub anno 2000...!</p>
<p>Vi fulgte egentlig også godt med i det første lange stykke tid, og især vores Man Of Match Anders Roar havde ufatteligt godt styr på alle modspillere... Han var som en sugemalle på en glasrude, når han markerede mostanderne, og det lykkedes ham næsten altid at prikke bolden fra de frustrerede teknikere...</p>
<p>I målet havde Kenneth "Pato" Kristensten styr på de fleste friløbere, når han modigt kastede sig ud i modstanderne med mudder og støvleknopper i ansigtet! Pato var generelt en trussel mod både sit eget hold og modstanderne kampen igennem!</p>
<p>På kanterne havde Rasmus "Koller" Bach og Asbjørn nogle gode runs fremad banen, og de kom for det meste til nogle velkvalificerede indlæg, som det lykkedes os andre at forpurre i de fleste tilfælde.... Koller var desuden dominerende i hovedspillet og havde nogle gode langskudsforsøg á la Suni Olsen, mens Erik Boye på den anden kant kæmpede sine ankler i laser med verdensklasse teknik og vendinger..</p>
<p><img src="http://i30.tinypic.com/vyxwcg.jpg" alt="" /></p>
<p><em>Roar i infight med en modstander</em></p>
<p>Jens "Hilbert" Thygesen udgjorde desuden en stor trussel i vores maskinrum, hvor hans lange ben utallige gange kom i vejen for farlige kontraangreb, hvorpå han driblede sig en smule uortodokst op igennem modstanderens skræmte forsvarslinje..</p>
<p>Jeg udgjorde den bagerste kæde for vores røde hold, og det vil jeg da mene, jeg gjorde solidt i forhold til første fo'boll kamp, hvor en seks-årig retarderet hermafrodit kunne have gjort mere gavn... Gang på gang blev jeg skudt ned af deres kæmpe centerforward, og gang på gang plaffede jeg lange og nogenlunde præcise bolde op mod vores tårnhøje angriber i form af Bach..</p>
<p>Det eneste mål for mit vedkommende var, da Bach med en excellente aflevering lagde den bag det blå holds forsvar, hvorefter jeg med en højre yderside udplacerede målmanden... En scoring efter fo'boll abc'en og et klassemål i alle spillets facetter...</p>
<p>Asbjørn måtte udgå med hele to skadede ankler, hvoraf den sidste lignede en forstuvning... Efter denne uforudsete skade, måtte hum-inf holdet være en mand i undertal resten af kampen., og hvilken kamp det blev..</p>
<p>Kampen foregik stadig i et hæsblæsende tempo, og vi må have løbet flere hundrede kilometer på det her tidspunkt!! Men vores solide og hårdhudede backkæde formåede i de fleste tilfælde at holde teknikerne fra scoring...</p>
<p><img src="http://i30.tinypic.com/1g0vty.jpg" alt="" /></p>
<p><em>"Glimrende hovedspil Bach"</em></p>
<p>Pludselig kom vi endda foran, og vi kunne ane en lille sensation mod det stærke blå hold! Men en hurtig udligning gav os en mavepumper af dimensioner, og teknikerne kunne vende kampen til deres fordel med to ekstra scoringer...</p>
<p>Et sjovt øjeblik forekom, da en lille bulldog gerne ville have fat på bolden... Mest af alt lignede det et forstørret marsvin, og vi ventede alle på, at den ville hoppe op og bide sig fast i Petters strube, men den forblev stillesiddende, hvorefter den fortrak gennem buskadset..</p>
<p>Kampen lakkede mod enden, og vi var desværre nede med to mål, men da kampen blev fløjtet til ende, var det ikke seks tabere, der haltede fra banen...</p>
<p>Vi gik godt nok ind på banen som underdogs og potentielle tabere; Roar, Kenneth, Bach, Asbjørn, Jens og jeg.. </p>
<p>Men det var seks heroiske og heltemodige mandfolk, der forlod den mudrede bane, og de seks vil gå over i Kvicklyparkens historie som <em>"The Fighting Six"</em>..</p>
<p>En legende var født, og den vil forblive indtil en ny fodboldkamp startes et sted i Danmark...</p>
<p>Das Zimmer direkte fra Kvicklyparken blandt skader og stemplinger...</p>
<p><img src="http://i30.tinypic.com/2vvjas5.jpg" alt="" /></p>
<p><em>Så siger vi tak for kampen drenge!</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[plutôt mourir que vivre ici - les esprits libres chez nietzsche]]></title>
<link>http://anarkali.wordpress.com/?p=44</link>
<pubDate>Sun, 06 Apr 2008 19:56:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>anarkali</dc:creator>
<guid>http://anarkali.fr.wordpress.com/2008/04/06/plutot-mourir-que-vivre-ici-les-esprits-libres-chez-nietzsche/</guid>
<description><![CDATA[- figures de l&#8217;exil chez nietzsche -
exil et amor fati (V) | les esprits libres (VI) | dépass]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="center">- figures de l'exil chez nietzsche -<br />
<a href="http://anarkali.wordpress.com/2008/03/30/jenseigne-aux-hommes-un-vouloir-nouveau-exil-et-amor-fati-chez-nietzsche/" target="_blank">exil et amor fati (V) </a>&#124; les esprits libres (VI) &#124; <a href="2008/04/14/ce-quon-peut-aimer-chez-lhomme-cest-quil-est-transition-et-perdition-depassement-de-lexil-chez-nietzsche/" target="_blank">dépassement de l'exil (VII)</a></p>
<p align="justify">---</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Si Zarathoustra écarte ses disciples et les met en garde, le message de Nietzsche s'adresse bien à une caste particulière mais jamais nommée, à ceux qu'il invite avec lui au voyage. Nietzsche consacre de nombreux aphorismes au type d'homme nouveau que sa philosophie annonce. L'exilé volontaire est d'abord un homme de la solitude, du renoncement à tout foyer, mais un homme qui aime ce destin et en affirme la nécessité. Mais quels sont ces destinataires prêts à tout renoncer sans autre gain qu'une liberté de l'esprit qui ne peut se fonder nulle part:</p>
<blockquote class="western"><p><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>il n'existait et ne pouvait exister aucun destinataire adéquat pour cet « Évangile ». Il faut en chercher la cause dans l'économie interne du nouveau message, qui exige, en contrepartie de l'accès à son privilège de proclamation, un prix disproportionné. [...] Ce n'est pas un hasard s'il a immédiatement poussé son premier proclamateur à se désolidariser de l'humanité passée et actuelle. Il exige de tout disciple potentiel une abstinence tellement radicale par rapport aux formes traditionnelles de l'illusion utile à la vie et du soulagement bourgeois que celui-ci se retrouverait livré à lui-même et en proie à un dégrisement invivable s'il devait sérieusement se rallier au nouveau message. (1</span></span></span>)<sup><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"></a></span></span></span></sup></p></blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>L'ambiguïté demeure de connaître les destinataires du message nietzschéen, ses sous-titres eux-mêmes entretiennent le mystère, « livre pour tous et pour personne » (2)</span></span></span><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span> ou « prélude à une philosophie de l'avenir » (3)</span></span></span><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>. La préface à </span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>Humain, trop humain </span></span></em><span style="text-decoration:none;"><span>(4)</span></span><sup><em></em></sup><em><span style="text-decoration:none;"><span> - </span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>« un livre pour les esprits libres » - est sur ce point le meilleur condensé de la vision de Nietzsche de l'esprit libre, un esprit qui franchit les stades de l'exil ici exposés. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;text-decoration:none;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;text-decoration:none;" align="justify">Néanmoins, le philosophe est lui-même désinvolte, sa philosophie n'est qu'une idiosyncrasie de l'exil – ces esprits libres sont autant d'albatros, de compagnons de voyage, que le philosophe modèle au fil de la dérive:</p>
<blockquote class="western"><p><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>C'est ainsi donc qu'une fois, lorsque j'en ai eu besoin, j'ai pour mon usage </span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>inventé</span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span> aussi les « esprits libres » à qui est dédié ce livre de découragement et d'encouragement tout ensemble [...] : des « esprits libres de ce genre, il n'y en a jamais eu, - mais j'avais alors, comme j'ai dit, besoin de leur société, pour rester de bonnes humeurs parmi des humeurs mauvaises (maladie, isolement, exil, </span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>acedia</span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>, inactivité) : comme de vaillants compagnons et fantômes, avec lesquels on babille et l'on rit, quand on a l'envie de babiller et de rire, et que l'on envoie au diable, quand ils deviennent ennuyeux, - comme dédommagement des amis manquants. (5</span></span></span>)<sup><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote5anc" href="#sdfootnote5sym"></a></span></span></span></sup></p></blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>Pourtant, Nietzsche fait constamment parler l'esprit libre (6)</span></span></span><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>, il s'en sert comme d'un paravent pour avancer masqué et détailler sa proposition philosophique. Au sens de Deleuze, l'esprit libre est un personnage conceptuel, dont la ''validité'' ne tient qu'en ce qu'il englobe de façon malléable les affirmations nietzschéennes. Nietzsche incite son lecteur à constamment veiller sur ses interprétations, à ne pas se laisser séduire par le charme de son écriture : « À supposer que cela aussi ne soit que de l'interprétation – vous mourrez d'envie de faire cette objection ? - eh bien, tant mieux. -</span></span></span><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span> » (7). L'exil est toujours singulier, c'est un instinct qui par nature échappe à toutes les catégories, qui combat sa propre identité. Le sens de la désinvolture nietzschéenne est que la liberté ne s'affirme que dans le pouvoir interprétatif, que l'esprit libre est celui qui a traversé le </span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>grand affranchissement </span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>:</span></span></span></p>
<blockquote class="western"><p><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>C'est une instigation, une impulsion qui s'exerce et se rend maîtresse d'eux comme un ordre; une volonté, un souhait s'éveille, d'aller en avant, n'importe où, à tout prix; une violente et dangereuse curiosité vers un monde non découvert flambe et flamboie dans tous les sens. « Plutôt mourir que vivre </span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>ici </span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>» - ainsi parle l'impérieuse voie de la séduction : et cet « ici », ce « chez nous » est tout ce qu'elle a aimé jusqu'à cette heure! Une peur, une défiance soudaines de tout ce qu'elle aimait, un éclair de mépris envers ce qui s'appelait pour elle le « devoir », un désir séditieux, volontaire, impérieux comme un volcan, de voyager, de s'expatrier, de s'éloigner, de se rafraîchir, de se dégriser, de se mettre à la glace, une haine pour l'amour, peut-être une démarche et un regard sacrilège en </span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>arrière</span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>, là-bas, où elle a jusqu'ici prié et aimé, peut-être une brûlure de honte sur ce qu'elle vient de faire, et un cri de joie en même temps pour l'avoir fait, un frisson et d'ivresse et de plaisir intérieur, ou se révèle une victoire – une victoire? Sur quoi? Sur qui? Victoire énigmatique, problématique, sujette à caution, mais qui est enfin la </span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>première</span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span> victoire: - voilà les maux et les douleurs qui composent l'histoire du grand affranchissement. (8</span></span></span>)<sup><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote8anc" href="#sdfootnote8sym"></a></span></span></span></sup></p></blockquote>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;text-decoration:none;" align="justify">Les esprits libres sont pour Nietzsche ceux qui ont compris le sens de son message qui est de refuser toute patrie, un impératif de mouvement qui jamais ne se retourne, ni ne s'arrête: on retrouve ici la joie de la liberté nouvellement conquise et la souffrance d'avoir laissé la terre aimée – la nostalgie. Les esprits libres sont des exilés avec une vision, avec une tension, un but. « Nous autres, esprits libres, qui devenons ce que nous sommes» : nous qui, exilés, nous exilons toujours plus loin, qui faisons nôtre l'incertitude, le risque et l'infini qui parsèment notre chemin.</p>
<blockquote class="western"><p><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>Nous autres: personne n'est exempt de cette recherche difficile, personne n'y est confronté tout seul, et personne n'y est identique. Le désir d'émancipation est toujours le fait d'un rapport aux autres : c'est la diversité effective dans laquelle nous sommes plongés qui nous arrache au solipsisme propre à toute illusion d'identité. (9)</span></span></span></p></blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>C'est dans l'altérité que se forme l'esprit libre, car il s'exile toujours d'un passé, d'un état de servitude antérieur (10</span></span></span>)<span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>. Il reconnaît également dans la diversité et la pluralité l'ordre hiérarchique du monde, il admet que ce fut là sa vocation, que c'est la lutte des instincts qui le poussent toujours plus avant : </span></span></span></p>
<blockquote class="western"><p><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>Notre vocation nous maîtrise, quand même nous ne la connaissons pas encore; c'est l'avenir qui dicte sa conduite à notre aujourd'hui. Étant donné que c'est le </span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>problème de la hiérarchie</span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span> dont nous avons le droit de parler, que c'est </span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>notre</span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span> problème, à nous autres esprit libres : aujourd'hui, au midi de notre vie [...] (11</span></span></span>)<sup><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote11anc" href="#sdfootnote11sym"></a></span></span></span></sup></p></blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>L'esprit libre représente la </span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>qualité </span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>de l'</span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>exil ontologique </span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>laissé en suspens, il en représente la plus forte intensité, le versant le plus affirmatif. Il est sans cesse en mutation, sans cesse s'élevant vers plus </span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>haut, </span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>voyant plus </span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>loin</span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span> que tous les autres, toujours dans la suppléance et l'excès par rapport au commun. L'esprit libre s'est affranchi de la pesanteur, il est un nouveau type d'homme pour un nouveau type de connaissance : </span></span></span></p>
<blockquote class="western">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>Il faut être </span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>très léger </span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>pour pousser sa volonté de connaissance jusqu'à un point si lointain et comme au-delà de son époque, pour se créer des yeux qui puissent embrasser des millénaires et ajouter à cela du ciel pur dans ces yeux! Il faut être détaché de bien des choses qui justement nous oppressent, nous freinent, nous plaquent au sol, nous rendent lourds, nous, Européens d'aujourd'hui. (12)</span></span></span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>Ce qui le </span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>distingue, </span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>ce qui le </span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>hiérarchise</span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>, c'est un sentiment, une pulsion, une conscience aigüe de soi, plutôt qu'un désir de domination ou la recherche consciente de puissance. Les esprits  libres ne forment pas de groupe homogène ni même hétérogène, ils ne sont que des points isolés qui ne peuvent coaliser leurs forces ou projeter communément leurs volontés. L'esprit libre est anti-politique, il est hors de toute cité :</span></span></span></p>
<blockquote class="western">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span>Mais nous, philosophes nouveaux, [...] nous enseignons l'éloignement vers l'étranger dans tous les sens, nous creusons des abîmes tels qu'il n'y en a jamais eu, nous voulons que l'homme devienne plus méchant qu'il ne l'a jamais été. En attendant nous vivons aussi nous-mêmes étrangers et cachés les uns aux autres. Il nous sera nécessaire, pour bien des raisons, d'être des solitaires, et même de porter des masques; - nous serons donc malhabiles à rechercher ceux qui nous sont semblables. (13)</span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>À ceux qui ont passé le grand affranchissement, il n'est pas de terre promise. Les esprits libres n'ont pas le « pouvoir » d'échapper par eux-mêmes à l'</span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>exil ontologique</span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>, ils sont seulement ceux qui en affirment de façon la plus tonitruante sa grandeur et qui en repoussent toujours plus loin les horizons. Ils sont les héros tragiques de la philosophie nietzschéenne, ceux qui en ont éprouvé les joies et les souffrances, les infinis et les limites : </span></span></span></p>
<blockquote class="western">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><em><span>L'héroïsme</span></em><span> – L'héroïsme consiste à faire de grandes choses (ou à ne pas faire quelque chose, mais avec grandeur) sans se sentir en concurrence avec d'autres, </span><em><span>en avant </span></em><span>des autres. Le héros porte en lui le désert et le saint parvis aux limites infranchissables, où qu'il aille. (14)</span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span>Nietzsche met en scène le dépassement de ce héros, il en fait le héraut d'un nouveau type d'homme, d'un Surhomme, qui est la fin de l'exil : l'affirmation pleine et entière de la vie, origine et fin, aurore et crépuscule. Car le Surhomme relève d'une ontologie renouvelée, qui n'est plus humaine : « le Sur-homme n'accomplirait pas l'humanité mais ce qui, en elle, est plus originaire qu'elle, la Volonté de Puissance : il serait l'accomplissement non pas de l'essence de l'homme, mais de l'essence de la vie</span></span></span><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span> » (15). En d'autres termes, il ne découvre pas une nouvelle terre, ni ne s'</span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>accomplit</span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span> dans l'exil ; il explose l'</span></span></span><em><span style="text-decoration:none;"><span>exil ontologique</span></span></em><span style="font-style:normal;"><span style="text-decoration:none;"><span> car le Surhomme est celui qui sur terre est chez lui.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:left;">---</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://anarkali.wordpress.com/2008/02/27/exil-et-ontologie-chez-nietzsche/">figures de l'exil chez nietzsche (I) : exil et ontologie</a><br />
<a href="http://anarkali.wordpress.com/2008/03/09/nous-avons-invente-l%e2%80%99idee-de-but-dans-la-realite-le-but-manque%e2%80%a6-exil-innocence-et-tragique-de-lexistence-chez-nietzsche/" target="_blank"> figures de l'exil chez nietzsche (II) : exil, innocence et tragique de l'existence</a><br />
<a href="http://anarkali.wordpress.com/2008/03/19/le-chemin-en-effet-cela-nexiste-pas-exil-et-probite-chez-nietzsche/"> figures de l'exil chez nietzsche (III) : exil et probité</a><br />
<a href="http://anarkali.wordpress.com/2008/03/23/o-solitude-solitude-ma-patrie-exil-solitude-et-voyage-chez-nietzsche/"> figures de l'exil chez nietzsche (IV) : exil, solitude et voyage</a><br />
<a href="/2008/03/30/jenseigne-aux-hommes-un-vouloir-nouveau-exil-et-amor-fati-chez-nietzsche/" target="_self"> figures de l'exil chez nietzsche (V) : exil et amor fati</a><br />
figures de l'exil chez nietzsche  (VI) : les esprits libres<br />
<a href="2008/04/14/ce-quon-peut-aimer-chez-lhomme-cest-quil-est-transition-et-perdition-depassement-de-lexil-chez-nietzsche/" target="_self"> figures de l'exil chez nietzsche  (VII) : dépassement de l'exil</a><br />
<a href="2008/04/19/nous-devons-demander-quels-sont-nos-nomades-aujourdhui-qui-sont-vraiment-nos-nietzscheens-conclusion-exil-et-nomadisation-chez-nietzsche/" target="_self"> figures de l'exil chez nietzsche (VIII) : conclusion ; exil et nomadisation</a></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:center;">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">---</p>
<div id="sdfootnote1">
<p class="sdfootnote">(1) Peter 	Sloterdijk, <em>La compétition des bonnes nouvelles - Nietzsche évangéliste</em>, p. 49</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p class="sdfootnote">(2) Nietzsche,<em> Ainsi parlait Zarathoustra</em></p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p class="sdfootnote">(3) Nietzsche, 	<em>Par-delà bien et mal</em></p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p class="sdfootnote">(4) Ré-écrite 	en 1886, soit après la publication de <em>Ainsi parlait 	Zarathoustra</em> et de <em>Par-delà bien et mal.</em></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p class="sdfootnote">(5) Nietzsche, 	<em>Humain, trop humain</em>, I, <em>Préface</em>, § 	2</p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p class="sdfootnote">(6) Par 	ailleurs, le reste de la préface est consacré aux 	conditions d'émergence de l'esprit libre, de son cheminement.</p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p class="sdfootnote">(7) Nietzsche, 	<em>Par-delà bien et mal</em>, § 22</p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p class="sdfootnote">(8) Nietzsche, 	<em>Humain, trop humain</em>, I, <em>préface</em>, § 	3</p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p class="sdfootnote">(9) Antonia 	Birnbaum, <em>Nietzsche : les aventures de l'héroïsme</em>, p.87</p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p class="sdfootnote"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">(10) cf. </span><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">dépassement de l'exil (VIII)<br />
</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p class="sdfootnote">(11) Nietzsche, 	<em>Humain, trop humain</em>, I, Préface, § 7</p>
</div>
<div id="sdfootnote12">
<p class="sdfootnote">(12) Nietzsche,<em> Le Gai Savoir</em>, § 380</p>
</div>
<div id="sdfootnote13">
<p class="sdfootnote"><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">(13) Nietzsche, </span><em><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">Fragments posthumes, </span></em><span style="background:transparent none repeat scroll 0;">FP 36 [17]</span></p>
<p class="sdfootnote">(14) Nietzsche, 	<em>Humain, trop humain</em>, II, <em>Le voyageur et son 	ombre</em>, § 337</p>
</div>
<div id="sdfootnote14">
<p class="sdfootnote">(15) Michel 	Haar, <em>Nietzsche et la métaphysique,</em><span style="font-style:normal;"> </span>p. 50</p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Skolegårdshierarki]]></title>
<link>http://daszimmer.wordpress.com/?p=24</link>
<pubDate>Sat, 15 Mar 2008 19:34:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>daszimmer</dc:creator>
<guid>http://daszimmer.fr.wordpress.com/2008/03/15/skolegardshierarki/</guid>
<description><![CDATA[ 
Kids can be fucking cruel!
Jeg sidder onsdag middag og ser &#8220;Lille Doktor På Prærien]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img border="0" width="1" src="http://i29.tinypic.com/2gsjs46.jpg" height="1" /><img border="0" width="720" src="http://i29.tinypic.com/2gsjs46.jpg" height="480" style="width:420px;height:286px;" /> </p>
<p><em>Kids can be fucking cruel!</em></p>
<p>Jeg sidder onsdag middag og ser "Lille Doktor På Prærien" (Ja, jeg ved, hvad du tænker... Dr. Quinn og Sully ER kultfigurer..), og kigger ved et tilfælde over i den skolegård, der er synlig fra mit vindue...</p>
<p>Her står en lille lyshåret purk midt i en cirkel, og bliver skubbet af en stor mørkhåret fyr med tilhørende klike.. "Det var da ikke en fair kamp", siger jeg til mig selv, mens den stakkels lille fyr bliver brutalt, og jeg mener brutalt, skubbet i jorden af især det store brød...</p>
<p>Børnene gik formodentlig ikke mere end i 3-4. klasse, men det var grumme scener, der foregik midt i den cementbelagte skolegård... En anden lille knægt ankommer til løjerne, men ser ud til at have empati for offeret, hvorpå han render mod skolebygningen..</p>
<p>Scenerne fortsætter midt i gården, og så er det lige, man spørger, hvor fanden gårdvagten er henne?? Ud af skolebygningen kommer kavaleriet pludseligt i form af en bleg bønnestage á la Peter Crouch som seksårig samt den anden lille knægt, som før var løbet mod klasseværelserne...</p>
<p>Hans tilstedeværelse fører hurtigt til at det meste af kliken forsvinder, mens bønnestagen foretager en meningsudveksling med den største af bøllerne... Lidt skubben bliver det til fra bønnestagen, og det store drog forsvinder undskyldende, mens bønnestagens lille hjælper giver sin assistance til knægten på jorden...</p>
<p>Skolegårdshierarkiet er klart, og mens bønnestagen kigger sig om efter andre opgaver, fornemmer jeg som observatør en glødende autoritetsaura omkring ham... Bønnestagen er sheriffen, og han bekæmper bøllerne og kæmper for de små i et lille samfund, vi kalder skolegården...</p>
<p>Das Zimmer direkte fra folkeskolen blandt bøller og heroisme!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[IDENTITE SIONISTE ET IDENTITE DIASPORIQUE ]]></title>
<link>http://ajhl.wordpress.com/?p=59</link>
<pubDate>Fri, 25 Jan 2008 14:59:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>gblond</dc:creator>
<guid>http://ajhl.fr.wordpress.com/?p=59</guid>
<description><![CDATA[                           Compte rendu de lecture du livre remarquable de Georges Ben Soussan : ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>                           Compte rendu de lecture du livre remarquable de Georges Ben Soussan : "Un nom impérissable", paru en janvier 2008</p>
<p>Après "Europe, une passion génocidaire" qui étudiait les éléments qui dans toute l'Europe avaient fait le lit  de l'extermination industrielle par les Allemands du peuple juif européen, G. Bensoussan se penche sur les rapports qui se sont établis entre le sionisme et Israël d'une part, et la Shoah et la Diaspora d'autre part, et sur l'évolution de la représentation que les israeliens se sont fait d'eux mêmes  au fil du temps sur ces points.</p>
<p>Il remet en mémoire la première attitude des membres du Yishouv (présence juive en palestine avant l'établissement de l'Etat Hébreu), et l'incompréhension teintée de mépris et parfois de haine vis à vis de la Diaspora qui existait à cette époque parmi ses membres.</p>
<p>"L'opposition à la diaspora s'est transformée pour moi_ ces temps-ci, en haine! Je la hais comme on hait l'infirmité dont on a honte et pour le traitement de laquelle on est prêt à sacrifier sa vie",écrit Itzhak Tabenkin, grande figure du sionisme ouvrier ...</p>
<p>Chantre du sionisme nietzschéen,  Berdichevski jugeait que" le judaisme rabbinique avait asséché une religion vivante en un peuple d'apeurés, corseté dans un rituel affadi et abstrait... "Beaucoup estimeront, à cette époque,que la Shoah a définitivement fait perdre à l'Exil, sa légitimité. "L'image du Juif, victime passive offrant son cou à l'assassin, contredit frontalement l'idéal sioniste ,comme si l'idéal de rédemption avait été miné par cette déréliction sans pareille". Face à elle, l'idéologie pionnière du "sabra" ne pourra plus faire illusion. Plus tard, quand la catastrophe sera redécouverte par la parole des enfants de rescapés voyageant sur les lieux de l'extermination, l'identité israelienne réifiée sous la forme du sabra volera en éclats pour laisser la place à une identité marquée aussi par la  peur et le silence. Alors s'imposera le souvenir d'une inquiétude omniprésente, et qui depuis longtemps déja, minait le rêve de rédemption. Comme si par cette angoisse fichée au coeur de l'existence juive, la Shoah avait à jamais corrompu le sionisme. C'est par le biais du voyage en Europe que des enfants israeliens, à partir des années 1980, en viendront à retrouver, voire réhabiliter la diaspora dans le rejet de laquelle ils avaient été élevés."</p>
<p>Ben Soussan décrit en effet l'absence de possibilité "d'écouter le discours des survivants dans l'Israel des années 1950, pris dans un discours de rejet del'être juif faible,et dans une apologie de l'"homme nouveau" qu'il s'agissait de créer par l'abolition du Juif classique,, qui rejoignait parfois les discours antisémites. Ce discours était , dans son essence, calqué sur le discours bolchevik de création d'une identité nouvelle rédemptrice et révolutionnaire, qui devait effacer la honte du mode de vie antérieur. A la limite, il se tenait un discours soutenant que les survivants étaient les pires , qui ne devaient leur survie que à leur dureté et à leur égoisme- dans une dénégation de ce qu'étaient les véritables mécanismes qui faisaient que certains survivaient et d'autres pas (la résistance physique, la résilience psychique créée par le maintien de croyances fortes, le soutien des réseaux organisés politiques et militants,la possession d'aptitudes paradoxalement  appréciées par les bourreaux nazis, etc.)</p>
<p>Ainsi, le" Juif nouveau" de l'ethos sioniste, qui voulait faire une "page blanche" est il "une illusion aussi absurde que tous les rêves d'"homme nouveau" qui ont jalonné le siècle . La conséquence en avait été le silence qui s'était abattu sur les rescapés, qui éprouvaient ce que les amputés appellent les"douleurs fantômes", un sentiment inconsolable de perte et de vide."</p>
<p>C'est ce que Aaron Applefeld appellera le divorce entre le sionisme et la diaspora en disant, à propos de la littérature: "La littérature hébraïque a divorcé de la question juive, du secret juif, elle a adopté le "canaanisme", l'eretzisraeliut (israelianité);</p>
<p>Ben Soussan développe l'idée que le refoulement des images de faiblesse incluses dans ce récit des rescapés cheminait souterrainement dans le corps national du nouvel Etat, entretenant le sentiment d'une menace existentielle qui perdure. La guerre de 1973, vécue malgré la victoire encore plus brillante que celle de 1967  comme ayant fait frôler la disparition de l'Etat Juif, les menaces d'aneantissement proférées par l'Iran et les mouvements extrêmistes islamiques  de plus en plus proches des centres vitaux israeliens, font ressentir aux israeliens que ils ne sont pas, malgré leur force, à l'abri définitivement d'une catastrophe aussi ample que celle des juifs européens."L'existence juive,qu'on croyait avoir normalisée en Israël,s"avère donc toujours précaire et comme suspendue au dessus du gouffre;</p>
<p>Pour Ben Soussan, c'est le procès Eichmann qui marque un tournant décisif dans la conscience des israeliens de n'être pas étrangers à la vie juive,et qui lui fait retrouver ses racines juives dont le sionisme entendait l'éloigner. Le pays est tout entier l'oreille collée aux transistors pendant les mois que dure le procès. Le choc est énorme et la question de ne pas trahir et de  ne pas dénigrer toutes ces souffrances des tout proches change le regard des Israeliens et  le procès marque "le retour de l'identité israélienne vers le peuple juif;</p>
<p>"Parallèlement, si la Shoah prend de plus en plus d'importance , si elle est perçue comme une histoire de plus en plus singulière, c'est aussi que le voeu antique des fondateurs qui entendaient faire de l'Etat Juif un état comme les autres a échoué;parce que le conflit inter-étatique qui l'oppose à ses voisins n'est pas de nature classique, mais porte sur le droit même à exister et sur la légitimité de l'Etat. Venu du plus profond du monde arabe, et plus encore de la "rue arabe", ce rejet renvoie l'Etat d'Israël, qui avait cru naïvement à une normalisation de l'histoire juive, à la solitude historique dont le sionisme avait prétendu le libérer.</p>
<p>A partir de là,les perspectives changent: la Shoah a atteint l'être juif comme essence. Elle a touché en conséquence tous les Juifs .C'est là un facteur d'unification de la société israelienne qui ramène dans le giron collectif ces juifs laïques qui vont faire du souvenir de la tragédie l'axz d'une "religion civile" de la nation et le ciment idéologique d'un monde en danger;"</p>
<p>"La religion civile et l'Histoire  comme substitut de la foi, n'ont rien de neuf dans l'histoire du sionisme, elles lui sont même consubstantielles, étroitement liées à cette identité sécularisée du judaïsme que fut le sionisme des origines. Pour avoir tôt compris que le déclin du religieux commandait de redéfinir la nation par la culture et par l'histoire, Ahad Ha'am est sans doute le père de cette religion séculière; A la culture et à l'histoire,Eliezer ben Yehouda ajoutera la langue.</p>
<p>L'idéal étatique,qui soutint le Yishouv et le jeune état israélien, demeurait étranger aux  Juifs venus des pays arabes qui restent attachés au judaïsme traditionnel et à la pratique religieuse. A lui seul, l'Etat   ne peut guère tenir lieu de transcendance, même s'il pouvait jadis figurer un idéal capable de galvaniser des juifs d'Europe, formés à cette histoire, pétris de culture politique européenne et bons connaisseurs de la Révolution Française.</p>
<p>La nouvelle religion civile qui gravite autour de la Shoah marque le déclin du sionisme socialiste des origines et du monde fondateur.</p>
<p>Par ailleurs de nombreux cercles dirigeants sont conscients que, privés de toute base religieuse juive, leurs enfants et audelà d'eux, les nouvelles générations se montreront demain incapables de justifier l'existence d'un Etat Juif, incapables de légitimer les sacrifices que l'état de guerre incessant    aux frontières ne manquera pas d'exiger;</p>
<p>Au fur et à  mesure que le nationalisme  israelien , dans les années 70, se ressource autour de la religion, la religion civile de la nation juive, elle, se centre de plus en plus autour de la Shoah . La légitimité de l'Etat Juif s'ancre de plus en plus dans le martyrologe. Tout comme l'histoire juive, en particulier dans les milieux laïques, devient la justification première de l'Etat d'Israël.</p>
<p>L'enseignement du Yishouv,en 1943, se rattachait déja à cette idée que les horreurs vécues par les juifs nécessitaient la force pour se défendre:"Nous nous sentons les fils d'un peuple malheureux qui a été mis à mort pour sa faiblesse, déclarait Israël Galili, chef de la Haganah..Un peuple sans bouclier, qui n'a pas d'armes pour se défendre, ne peut pas s'attendre à  ce que les autres lui portent secours;un peuple frivole, qui fait confiance aux délibérations morales de l'humanité, est un peuple suicidaire..;Des profondeurs des crématoires et des tombeaux monte l'ordre  à tout homme d'Israël:être une force."</p>
<p>Mais ce que souligne Ben Soussan, c'est que ce renversement d'attitude israelien conduit à une héroïsation  de la Shoah, qui reste coupée de toute la vie diasporique antérieure, et à une identité fondée sur le repli sur soi et la conviction que l'antisémitisme est éternel, sans analyse des facteurs historiques qui  ont déterminé son existence,son maintien, et son exaspération dans certaines périodes, de même que  ils ont déterminé la montée en Europe d'expériences et de courants de pensée qui ont rendu possibles l'extermination en Allemagne.; Ainsi se développe selon lui une vision "insulaire" de l'identité, encourageant le thème du "peuple qui habite seul".</p>
<p>La position de Ben Soussan est d'ailleurs ambigue sur ce plan, car si il critique la religion laïque de la Shoah qui centre sur celle ci l'identité juive, et fait du Juif, par essence,celui qui, est elu par le mal qu'est l'antisémitisme, il critique également la position des "néosionistes", c'est à dire les antisionistes modernes, qui nient la spécificité de la volonté de tuer les juifs et  réduisent  cette histoire au cas général des crimes contre l'humanité. Ce débat entre l'attitude repliée et sur la défensive, et l'attitude "universaliste" est un des plus vieux débats du monde juif.</p>
<p>La conclusion de &#60;ben Soussan, c'est que l'Etat Juif a changé de signification ,que" le désastre a cimenté l'hétéroclite nation israelienne," et que,"quand les murs de la foi chancellent,  l'Histoire vient au secours des juifs "perdus":l'assise de l'identité juive traditionnelle migre de la foi à la "mémoire"; le coeur  historique de la nation ne se situe plus dans le bâtiment des archives sionistes, mais à Yad Vashem, lieu de la mémoire de la Shoah.</p>
<p>.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
