<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>idealisme &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/idealisme/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "idealisme"</description>
	<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 11:48:53 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Kompromi Demi Nasi]]></title>
<link>http://harmonicnoise.wordpress.com/?p=123</link>
<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 08:54:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>nd-less</dc:creator>
<guid>http://harmonicnoise.wordpress.com/?p=123</guid>
<description><![CDATA[“Album kami yang berikutnya, bakal kayak Ungu, Leh,” katanya pelan.
Yang mengeluarkan kalimat ta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Verdana;">“Album kami yang berikutnya, bakal kayak Ungu, Leh,” katanya pelan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Yang mengeluarkan kalimat tadi, salah seorang personel dari kelompok musik. Majalah Trax sempat menulis beberapa kali soal mereka. Arian, yang merasa musik mereka bagus, seperti juga saya, waktu itu memberi porsi yang cukup banyak buat mereka. Kami ingin mendukung mereka. Yah, minimal membantu mempromosikan album mereka.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Saya tak akan menyebut nama mereka. Sebenarnya, mengutip perkataannya tanpa ijin sudah tidak etis. Makanya, saya samarkan, biar sedikit mengurangi rasa bersalah. Tak akan pula menyebut genre musiknya. Karena sudah jarang kelompok musik yang memainkan musik seperti mereka, sekarang. Yang jelas, mereka bagus. Memang, komposisi musiknya, bukan tipikal yang bakal langsung hinggap di telinga. Butuh waktu. Dan memang, cenderung terlalu rumit, berat, serius. In a good way, sebenarnya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Lirik mereka penuh perenungan. Kontemplatif. Si penulis lirik bercerita pada saya, kalau mereka tidak ingin lirik mereka tidak bermakna. Si penulis lirik mengagumi lirik-lirik Arian. Dia bilang, Arian bisa membuat lirik berbahasa Indonesia, dengan bagus. Saya juga melihat dia punya potensi menawarkan tema lagu yang berbeda untuk industri musik Indonesia.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Walaupun, agak terlalu berat sebenarnya. Biasanya, kelompok musik yang sudah mengeluarkan beberapa album, mengeluarkan lirik-lirik kontemplatif seperti itu. Dengan kata lain, seiring bertambahnya usia si penulis lirik. Tapi, mereka sudah melakukannya di album pertama.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Saya waktu itu, agak terkejut juga, ketika si label mau merilis album perdana mereka. Dan bersyukur, setidaknya, mereka dari label besar masih mau percaya pada kelompok musik seperti mereka. Yang tidak bernyanyi soal cinta-cintaan antara laki-laki dan perempuan. Yang tidak mendayu-dayu, khas Melayu. Yang saya tangkap, mereka tak ingin seperti banyak kelompok musik lain di Indonesia.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Setidaknya, sampai saya bertemu lagi dengan salah seorang dari mereka, kemarin.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Memang, sebelumnya, saya pernah dengar dari si penulis lirik, kalau si bos label ingin agar si penulis lirik menulis lirik cinta-cintaan. Jangan terlalu serius. Waktu itu, si penulis lirik hanya cengengesan ketika bercerita soal itu. Saya menangkap kesan, kalau dia masih tak setuju dengan ide itu. Atau, setidaknya, masih berpikir dua kali untuk melakukan itu.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">“Anak-anak kan sekarang udah ada yang berkeluarga juga Leh. Yah, minimal, kami melakukan ini buat memertahankan band supaya jangan bubar aja,” kata si personel yang bertemu dengan saya kemarin.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Perasaan saya, campur aduk. Ada sedikit rasa iba. Ada juga perasaan, yah wajar lah namanya juga industri. Selama mereka senang, kenapa tidak? Tapi, ketika si personel itu mengeluarkan kata-kata itu, sambil tersenyum miris, saya menangkap kesan, kalau mereka sebenarnya agak terpaksa juga mengambil langkah itu.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">“Sekarang, liriknya yah aku padamu aku padamu. Si penulis lirik juga banyak baca chicklit sekarang. Dan nada vokalnya sekarang melengking melulu,” laki-laki itu tertawa.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Saya tak tau, dia tertawa karena menganggap hal itu benar-benar bodoh. Atau karena tertawa dalam kesedihan. [Haha. Saya seperti yang berlebihan ya. Maafkan].<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Mungkin ini tak akan terjadi kalau si label tidak menaruh beban yang begitu besar pada mereka. Mungkin ini tak akan terjadi kalau si label masih mau memercayakan mereka untuk membuat musik yang mereka keluarkan dari hati. Bukan musik yang dibuat karena terpaksa. Ke mana rasa percaya itu?<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Atau, mungkin setelah mereka merilis album dengan “musik seperti Ungu” dan meledak, punya banyak uang, mereka tak jadi bubar, lantas menikmati membuat musik begitu, yah saya tak bisa berkata apa-apa lagi selain ikut berbahagia buat mereka.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Tapi, kalau saja, ternyata “musik seperti Ungu” yang mereka buat tak lebih baik dari musik di album terdahulu mereka, juga tak lebih baik dari musik Ungu, akibatnya tak laku dijual, hingga membuat mereka benar-benar bubar, wah disayangkan sekali ya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Ini membuat saya bertanya-tanya. Berapa banyak kelompok musik yang dalam karirnya mengambil langkah seperti mereka? Saya sering dengar memang soal ini. Tapi, terus terang, ini kali pertama, seorang musisi berkata jujur soal itu kepada saya. Dan mendengar langsung, terasa lebih sedih dan terenyuh.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Kalau memang dari awal mereka ingin membuat musik yang seperti itu, cinta-cintaan dan laku dijual, saya mungkin tak akan sedih mendengar keputusan mereka untuk “membuat musik seperti Ungu.” Tapi ini, ya itu tadi. Saya masih ingat waktu pertama kali mewawancarai mereka. Penuh semangat. Sangat yakin pada musik yang mereka buat. Ingin menawarkan pilihan lain. Ingin jadi pusaka di industri musik Indonesia.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Ah, sialan. Saya lagi-lagi berlebihan. Apapun yang terjadi, saya doakan mereka mendapatkan yang mereka cari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">sumber; <a href="http://solehsolihun.multiply.com" target="_blank">solehsolihun</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ketika idealisme dipertanyakan...]]></title>
<link>http://rusiawan.wordpress.com/?p=126</link>
<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 18:50:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>rusiawan</dc:creator>
<guid>http://rusiawan.wordpress.com/?p=126</guid>
<description><![CDATA[Belum apa-apa gosip sudah beredar luas. Di kantor, di kantor cabang X, di kantor cabang F, di kampun]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Belum apa-apa gosip sudah beredar luas. Di kantor, di kantor cabang X, di kantor cabang F, di kampung eheheh.. kok kyna semua sudah pada tau kalau aku akan ke N.</p>
<p>Terus terang sudah setahun ini aku terjun 100% di dunia profesional.  Bekerja, ya bekerja. Berbeda dengan kerja paruh waktu yang sudah biasa kutekuni di bangku kuliah dulu.</p>
<p>Berhubung merasa sudah mencapai titik saturasi  di kandang gajah, pergilah aku merantau ke Jakarta. Pada awalnya niat bekerja  adalah mencari pengalaman dan pengetahuan baru.  Aku haus ilmu baru, peduli amat dengan uang, begitu idealisme ku bergolak kala itu.  Kuambillah sebuah pekerjaan di suatu sistem yang -kuharap- kaya dengan ilmu praktis di bidang yang aku sukai kala itu.  Lambat laun, ketika mulai terasa ternyata tidak sesuai yang diharapkan ditambah ketika muncul tanggung jawab lain, menghidupi belahan hati mertua yang sekarang menjadi belahan hatiku, idealismu itu mulai bergeser. Wajar sepertinya, tujuan pokok bekerja adalah mencari penghasilan.</p>
<p>Sekali lagi aku dihadapkan pada kondisi yang membuat akalku berpikir sepertinya aku harus berubah haluan, tidak mungkin aku seperti ini terus.  Tujuan utamaku bekerja ternyata belum tercapai dengan sepantasnya.  Mungkin memang Allah, alhamdulillah, menjawab ketidaksabaranku dengan kondisi ini dengan karunia rizki (dan tetep Kurnia adalah rizki yg sangat kusyukuri :P ) yang lain, yang kata teman-teman adalah juga "rejekine wong nikah", rejeki-nya orang menikah :D.</p>
<p>Aku diberi kesempatan untuk memuaskan idealisme pertamaku dalam coretan non-fiksi ini.  Kesempatan untuk bisa lebih fokus mencari ilmu.  Sebuah kesempatan yang juga sumbangan rakyat Indonesia, ya, kesempatan dan juga beban buatku.  Banyak pertimbangan yang harus kubuat untuk memutuskan mengambil kesempatan ini, di sisi lain kesempatan mengejar idealismeku bisa tersalurkan namun secara bersamaan  di sisi yang lain tanggung jawabku kepada keluarga intiku pastinya menjadi akan lebih berat untuk diperjuangkan.</p>
<p>Saat masih berkutat dengan euroforia eh euforia  keingintahuanku tentang kesempatan di dunia baru bagiku tadi sekaligus ketakutan akan tanggungjawab dan beban yang harus kupikul, lagi-lagi aku dihadapkan pada kondisi yang membuatku kembali mempertanyakan idealismeku, idealisme yang selama ini menjadi salah satu dasar mengambil pilihan.  Allah kembali memberi rizki sebuah kesempatan untuk bekerja profesional di tempat yang banyak diidamkan mahasiswa yang baru lulus, pekerjaan di sektor yang dianggap paling basah di negeri ini, perusahaan minyak, itu dia ! :P.  Orang bilang sih yang terbesar revenue-nya, yang tentunya terbesar memberi gaji kepada karyawannya (setidaknya untuk entry level seperti aku ini hehehe.. ). Tinggal 2 tahap lagi menuju kesitu. Idealismeku  bertanya, hayo km sebenarnya maunya apa ?  Melanjutkan untuk mewujudkan euroforia idealisme tentang ilmu atau mengejar transferan per bulan yg 2 digit itu ?  Masih terasa melayang....</p>
<p>Akankah idealisme itu untuk selamanya ? ataukah ada idealisme berjangka ?</p>
<p>Apakah idealisme menjadi tujuan hidup ?  ataukah idealisme adalah teman seperjalanan menuju tujuan hidup ?</p>
<p>Yang jelas aku sudah mendapat pelajaran berharga tentang kesabaran dan idealisme dari setahun ini aku bekerja. Mewujudkan idealisme butuh kesabaran, namun kesabaran tidak boleh menahan kita mencari jalur yang lebih baik untuk mewujudkannya.</p>
<p>Bersabar dengan kondisi yang ada, jujur dan kuat atas idealisme, berjuang mencapai tujuan hidup.  Terdengar normatif, tapi layak untuk diusahakan.</p>
<p>B-2 menuju euroforia, insya Allah.</p>
<p>Sementara masih 0-0 Jerman vs Turki</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PENGEMBARAAN JIWAKU 1 MALAM DI ALAM MAYA SAHABAT]]></title>
<link>http://jiwakelana.wordpress.com/?p=66</link>
<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 11:15:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>jiwakelana</dc:creator>
<guid>http://jiwakelana.wordpress.com/?p=66</guid>
<description><![CDATA[
Semalam ketika sepi menyapa dan Ketika bintang mencoba menghiasi malam, aku hanyut dalam sebuah per]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Semalam ketika sepi menyapa dan <strong><a href="http://nyonya.nazieb.com">Ketika bintang mencoba menghiasi malam</a>, </strong>aku hanyut dalam sebuah perasaan. <strong><a href="http://jiwakelana.wordpress.com">Jiwaku</a> </strong>mengelana melayang tinggi ke <strong><a href="http://langitjiwa.wordpress.com">langit jiwa</a></strong>. Sebuah <a href="http://azaxs.wardpress.com"><strong>perjalanan</strong> </a>menembus <strong><a href="http://awan965.wordpress.com">awan</a></strong>,  bagaikan <strong><a href="http://frenky.web.ugm.ac.id">pengembaraan menuju puncak idealisme</a></strong> hanya tuk sekedar mencari teman <strong><a href="http://yellashakti.wordpress.com">berbagi rasa</a></strong>.</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Malam yang begitu dingin saat tetes air hujan membasahiku, biarlah kunikmati saja <strong><a href="http://afraafifah.wordpress.com">karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan</a></strong>, tapi aku tak boleh terlalu lama bermain dengan hujan sebab tak elok untuk kesehatanku, maka terpaksa sejenak kucari <strong><a href="http://saungbunda.wordpress.com">saung tuk berteduh</a></strong> agar jiwa tidak terlalu menggigil kedinginan. <a href="http://achoey.wordpress.com"> <strong>Perjalanan panjang merealisasikan impian</strong></a>, membuat ku letih dan lelah, tapi <strong><a href="http://prestylarasati.wordpress.com">meski lelah, harus tetap melangkah, walau hanya selangkah</a></strong>. Malam kian menyatu dan seakan <strong><a href="http://nenyok.wordpress.com">senyawa</a></strong> dengan diriku, atau hanya <strong><a href="http://nengthree.wordpress.com">pikiranku</a> </strong>saja karena aku sedang berada dalam <strong><a href="http://http://meylya.wordpress.com">my virtual word</a></strong>.</span></p>
<blockquote><p>&#60;p style="text</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>POSTINGAN INI MENGALAMI KERUSAKAN SCRIF, DISARANKAN UNTUK MEMBACA PERBAIKANNYA. TERIMA KASIH.</strong></span></p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[17 Hari Bersama Finalis Miss Indonesia 2008 (1)]]></title>
<link>http://ratnaisnasari.wordpress.com/?p=16</link>
<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 23:09:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ratna Isnasari</dc:creator>
<guid>http://ratnaisnasari.wordpress.com/?p=16</guid>
<description><![CDATA[
ANGAN-ANGAN
 Ini pekerjaan baru buat ku. Karena merasa jenuh dan lelah oleh kerja2 sebelumnya yang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratnaisnasari.files.wordpress.com/2008/06/p1000243edited.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-36" src="http://ratnaisnasari.wordpress.com/files/2008/06/p1000243edited.jpg?w=128" alt="" width="227" height="169" /></a></p>
<p><strong>ANGAN-ANGAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:8pt;" lang="SV"> </span></strong><span style="font-size:8pt;" lang="FI">Ini pekerjaan baru buat ku. Karena merasa jenuh dan lelah oleh kerja2 sebelumnya yang selalu always menguras daya pikir, daya ketik dan daya mental, maka tawaran bergabung dengan kepanitiaan Miss Indonesia bagai siraman air hujan di padang pasir nan tandus dan gersang..hehe.., sesuatu yang sangat berbeda, masuk dunia hiburan bo! </span><span style="font-size:8pt;" lang="SV">Semoga ’refreshing’ deh judulnya :)</span><span style="font-size:8pt;" lang="SV">. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="SV">17 hari ikutan di karantina, hmm... lama banget ya? Tapi gpp deh seperti biasanya aku selalu semangat berada ditengah-tengah anak muda. Cerita mereka tentang dunianya dan dari sudut pandangnya selalu asik untuk disimak. Siapa tahu, idealisme dan harapan dapat diselipkan diantara kata-kata dan canda bersama mereka. Kalau generasi tua dinilai sudah tidak bisa diharapkan, maka yang muda yang penuh semangat masih mempunyai banyak kesempatan untuk membuat perubahan perbaikan sosial, minimal di lingkungan terdekatnya. Maka gak ada salahnya juga kan menjadi ’public figure’ lewat ajang pemilihan miss Indonesia karena sebetulnya banyak peluang didalamnya untuk memulai melakukan perubahan perbaikan itu. Setuju? Ya harus.. :)</span><span style="font-size:8pt;" lang="SV"> <span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="SV"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="SV">Untuk lingkup karantina, ngga perlu lah bermimpi membuat perubahan besar. Tentunya (harapanku) ini adalah semacam jembatan penggemblengan.<span> </span>Disini mungkin bisa terjadi perubahan perbaikan untuk diri pribadi sehingga kalaupun tidak berhasil menjadi miss, setidaknya para finalis merasakan adanya suatu perubahan berarti dalam dirinya. Mereka menjadi berbeda dari anak muda kebanyakan. Potensi-potensi positifnya mulai diasah disini, sehingga pribadi serta perilakunya kelak harus lebih berkualitas.<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="SV">Menjadi anak muda yang lebih berkualitas? Maksudnya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="SV"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="SV">Jargon Miss Indonesia tahun 2008 adalah MISS (Manners, Impressive, Smart dan Social). Keren kan? Sayangnya jargon, berikut visi dan misi diuraikan terlalu singkat dan kurang jelas saat dipaparkan oleh sang ’founder’ dihadapan finalis. Jadi ciri/karakteristik miss Indonesia yang dimaksud seolah berada di atas awan, membingungkan dalam tindak nyata; sebetulnya perilaku-perilaku konkrit macam manakah yang diharapkan ada dalam diri seorang miss. Aku pun cuma bisa mereka-reka, sedikit comot sana somot sini; sebagian menurut daya tangkapku saat itu, sisanya adalah mengarang bebas.. :p </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="SV">Maka tergambarlah kurang lebihnya ciri seorang miss yang dimaksud itu (tapi juga masih bersifat umum). Mereka haruslah berperilaku santun dan beretika, keberadaannya secara keseluruhan mengesankan lingkungan sekitarnya; penampilan fisiknya tentu saja, kecerdasannya, jiwa sosialnya, kepeduliannya terhadap hubungan dan masalah sosial. Bahkan kata psikolog Alexander Sriewijono, dalam pembekalan/pemaparan tentang ’beautiful mind’,<span> </span>Miss Indonesia harus inspirasional, artinya ketika orang-orang melihat dia; bertemu dengannya, maka ada rasa terpesona, tak berjarak, dan terdorong untuk menjadi pribadi seperti dia.<span> </span>Hmm.. setujuuuu.... Dan, satu lagi, sebetulnya cuma harapanku yang terlambat sih, andai jargon Moralitas masuk didalamnya. Baru deh.. kau begitu sempurna... <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="SV">Lepas dari urusan karakteristik yang samar-samar ‘the show must go on, right?’ tentu saja jadi <span> </span>wajib hukumnya kalau mereka yang terpilih saat audisi haruslah yang dinilai memiliki ciri-ciri tersebut, kalaupun ada ciri yang masih terpendam (potensional), barangkali masih bisa di asah saat karantina. Semoga. <span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="SV">Maka terpilihlah 33 finalis yang berasal, atau mewakili setiap daerah propinsi yang ada di seluruh tanah air. JRENG !! dan... mereka siap masuk karantina..  (baca juga:  Karantina oh Karantina, kategori: event)<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Nana</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;" lang="SV"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Idealisme dan Rasa Lapar]]></title>
<link>http://asalbaca.wordpress.com/?p=149</link>
<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 07:27:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>asalbaca</dc:creator>
<guid>http://asalbaca.wordpress.com/?p=149</guid>
<description><![CDATA[Tidak orang yang tidak mempunyai idealisme dalam bidangnya masing-masing. Setiap orang pasti mempuny]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="image by elysea from flickr" rel="nofollow" href="http://flickr.com/photos/55832338@N00/"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3055/2437392946_b802344642_m.jpg" alt="i am hungry" align="left" /></a>Tidak orang yang tidak mempunyai idealisme dalam bidangnya masing-masing. Setiap orang pasti mempunyai itu. Tetapi pernahkah kepikiran oleh kita, kalau ada sesuatu di dunia ini yg mampu mengalahkannya? Apa itu?<!--more--></p>
<p>Kebutuhan ekonomi atau ekstrimnya saya sebut disini sebagai rasa lapar...Seseorang wajar jika mempunyai sebuah idealisme tertentu, tetapi apakah idealisme itu diturutinya ato tidak, itu tergantung dari kondisi/keadaan dirinya sendiri.</p>
<p>Seseorang mempunyai idealisme dalam hal misalnya beli mobil. Orang A dan B sama-sama ingin beli dan memiliki klo mobil tuh harus mobil BMW. Tetapi mungkin karena kondisi ekonomi keluarga A sedang susah, maka tidak mungkin untuk dia membeli mobil tersebut. Berbeda dengan orang B, yang tidak ada masalah ekonomi atau lainnya, maka dia mampu membeli dan akhirnya memiliki mobil tersebut.</p>
<p>Di atas adalah contoh peristiwanya. Lalu bagaimana jika idealisme yg berhubungan dengan cita-cita ? Apakah harus bernasib sama? Apakah jaman sekrang ini apa-apa harus berupa uang? Atau apakah sesuatu yg bernilai itu harus yg menghasilkan dulu?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Selalu ulang, kita tentu berjuang!!!]]></title>
<link>http://zainulfaqar.wordpress.com/?p=629</link>
<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 17:04:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>zainulfaqar</dc:creator>
<guid>http://zainulfaqar.wordpress.com/?p=629</guid>
<description><![CDATA[[ Jika di Indonesia, idealisme mahasiswa (disebut: 'idealisme kami') seumpama di bawah ini akan diik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:7pt;color:red;"><span style="color:#ff0000;">[ Jika di Indonesia, idealisme mahasiswa (disebut: 'idealisme kami') seumpama di bawah ini akan diikrarkan oleh aktivis mahasiswa Islam di sana sebelum memulakan program asasi gerakan mahasiswa Islam (GMI) – sebelum musyawarah, bersukan, mendaki bukit, turun ke desa, berwacana hatta sebelum USRAH kerana dengan berbuat sedemikan, mampu menyuntik semangat berlajar, membentu sifat kepemimpinan aktivis hatta menyemarakkan iltizam untuk melaksanakan perubahan dalam negara. Adik-adik Usrahku, mari sama-sama kita hayati bait ikrar di bawah ini. Adik-adik Usrahku, sila <em><span style="font-family:&#34;">copy </span></em>atau tulis semula, kemudian lekatkan pada meja <em>study </em>pintu<em> </em><em>locker </em><span style="font-family:&#34;"></span>papan kenyataan di rumah-rumah jamaah untuk diulang ikrar kerana kita tentu akan berjuang. <em>PENDIDIKAN ASAS PERUBAHAN </em>]</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:7pt;color:red;"></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:center;"><a href="http://zainulfaqar.files.wordpress.com/2008/06/ikrar-im.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-632" src="http://zainulfaqar.wordpress.com/files/2008/06/ikrar-im.jpg" alt="" width="636" height="669" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peranan Strategis Perguruan Tinggi di Indonesia, lemah]]></title>
<link>http://limpo51.wordpress.com/?p=4</link>
<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 02:24:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>limpo50</dc:creator>
<guid>http://limpo51.wordpress.com/?p=4</guid>
<description><![CDATA[Disadari ataupun tidak, Perguruan Tinggilah tumpuan kelanjutan dan perbaikan negara. Disitulah lahir]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><!--more-->Disadari ataupun tidak, Perguruan Tinggilah tumpuan kelanjutan dan perbaikan negara. Disitulah lahir generasi pembaharu yang bersih dan penuh idealisme. Kini harapan itu bertemu dengan pertanyaan... sebegini lamakah negara harus terombang-ambing oleh iklim politik yang tak menentu, yang setiap detiknya dikabarkan penuh pemandangan yang mengiris harapan... mau jadi apa negara ini kelak.</p>
<p>Masih berjanjut</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[pudarnya idealisme]]></title>
<link>http://akupetta.wordpress.com/?p=35</link>
<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 12:50:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>akupetta</dc:creator>
<guid>http://akupetta.wordpress.com/?p=35</guid>
<description><![CDATA[11:23 AM 6/9/2008


-

kenapa sekarang berada begitu jauh dari idealisme yang dahulu kala diserukan?]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>11:23 AM 6/9/2008</p>
<p style="text-align:right;">
<p style="text-align:right;">
<p style="text-align:right;">-</p>
<p style="text-align:right;">
<p>kenapa sekarang berada begitu jauh dari idealisme yang dahulu kala diserukan?<br />
kenapa sekarang begitu sering melanggar aturan dengan bermacam alasan sebagai pembenaran?<br />
kenapa lama kelamaan berubah menjadi orang-orang yang pernah dipandang dengan mata terpicing?</p>
<p style="text-align:right;">-</p>
<p>mana petta yang kemarin, yang datang dengan sejuta binar cita di matanya.<br />
mana petta yang waktu itu, yang (pernah) melesat begitu di depan.<br />
mana...<br />
sekarang tak ubahnya dengan yang lain.<br />
lalu apa gunanya?</p>
<p style="text-align:right;">-</p>
<p>tercampak, hah?<br />
atau mungkin mencampakkan diri sendiri?<br />
tertinggal?<br />
atau sengaja mundur?</p>
<p style="text-align:right;">-</p>
<p>tidakkah engkau mencoba mengejar selisih kau terdahului?<br />
tidak jauh, sahabat...<br />
masih sempat bila mau kau memulainya sekarang.<br />
dan tidak perlu berlari yang justru akan membuatmu terengah.<br />
cukup perlahan, berjalan...<br />
pasti.<br />
seperti yang selalu dunia katakan padamu:<br />
"pasti bisa!"</p>
<p style="text-align:right;">-</p>
<p>mengerti?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hidup Terlalu Indah Untuk Dikeluhkan]]></title>
<link>http://legendabuana.wordpress.com/?p=23</link>
<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 10:23:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>legendabuana</dc:creator>
<guid>http://legendabuana.wordpress.com/?p=23</guid>
<description><![CDATA[Kelamnya malam mulai menelan lembayung senja. Perlahan warna hitam itu memenuhi angkasa. Kerlap-kerl]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Kelamnya malam mulai menelan lembayung senja. Perlahan warna hitam itu memenuhi angkasa. Kerlap-kerlip cahaya mulai menerangi sudut-sudut kota. Angin malam bertiup lembut membelai wajah seorang gadis yang berjalan di trotoar protokol kota Jakarta. Ia menengadahkan kepalanya ke atas. Rembulan malu-malu menampakkan wujudnya di balik awan yang terlihat seperti kabut tipis di langit gelap tak berbintang. Bagai perasaan yang dipendamnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;"><span> </span>Memaknai segalanya dalam dada yang berkecamuk membuatnya lelah. Tapi hal itu tak tampak di wajah manisnya. Gadis itu terlihat kuat dengan tulang-tulang yang besar dan wajah manis yang tegar. Tetapi di dalam hati, sesungguhnya ia sangat lemah. Apalagi bila berkaitan dengan perasaan. Ia bisa menjadi sangat melankolis ketika malam menjelang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;"><span> </span>Gadis itu melangkahkan kaki memasuki sebuah warung kopi pinggir jalan dimana terdapat bangku-bangku panjang yang diduduki sekitar 4 laki-laki dan 2 perempuan. Gadis itu tersenyum melihat teman-temannya yang sedang mengobrol dan tertawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;"><span> </span>“Hanya orang-orang bodoh yang lupa bahwa hidup ini sebenarnya terlalu indah untuk dikeluhkan,” kata laki-laki yang duduk paling ujung dengan rokok berada di sudut bibirnya. Ia tertawa tertahan membuat perutnya yang gendut berguncang hebat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;"><span> </span>“Hidup terlalu indah untuk dikeluhkan? Baru saja aku mengeluhkan hidupku. Lelah dengan pekerjaanku, muak dengan keidealisan ayahku yang membuat suasana di rumah menjadi kurang nyaman, dan masalah perasaan yang membuatku galau,” kata gadis yang datang tadi. Tatapannya yang kosong tertuju pada jalan raya di depan warung kopi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Jalan raya itu penuh dengan kendaraan yang berlalu lalang. Jakarta pada malam hari tidak pernah sepi. Bahkan ada orang-orang yang memulai hidupnya ketika malam menjelang. Pekerja-pekerja malam yang terkadang dinilai negatif oleh masyarakat padahal adapula pekerja-pekerja malam yang bekerja secara halal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">“Kenapa harus mengeluh? Aku tahu, karena kamu merasa hidupmu tidak seperti apa yang kamu inginkan. Benar kan?” tanya laki-laki yang duduk tepat di hadapannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">“Ya, memang tidak semua yang aku inginkan bisa menjadi kenyataan. Tapi menurutku, selama aku berusaha menginginkan hal itu dan hal itu menjadi suatu harapan, untuk itulah aku hidup. Karena harapan itu aku masih tetap bertahan hidup,” jelas gadis itu. Matanya tak lagi sendu tapi menyala.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">“Kamu lelah dengan pekerjaanmu? Bukannya kamu sangat menyukai pekerjaanmu? Sebagai seorang jurnalis sekaligus penulis, hobi yang menjadi pekerjaan itu sangat menyenangkan, bukan?” ujar perempuan yang duduk di sampingnya. Perempuan itu adalah senior 2 tingkat di atasnya ketika kuliah. Ia sangat menyukai <em>extreme sport</em> seperti <em>climbing</em> dan ia sangat menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan hobinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">“Mengenai keidealisan ayah kamu, saat ini pun kamu mengalami dilema kan? Antara jurnalis sebagai wujud dari realita kamu dan penulis yang merupakan wujud dari keidealisan kamu,” kata perempuan itu lagi. Tepat sasaran, gadis itu hanya mendesah. Apa yang dikatakan seniornya itu tepat dengan apa yang ia rasakan. Rasa-rasanya ia mengerti apa yang dirasakan ayahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">“Kalau masalah perasaan, mungkin Richard Ashcroft pernah bilang<span> </span>‘<em>there are so many things I can do, just like fallin in love with u</em>’ tapi menurut aku ‘<em>there are so many things we can do, not only fallin in love’ </em>ya nggak?” celetuk laki-laki yang membuka pembicaraan mengenai hidup ini sebenarnya terlalu indah untuk dikeluhkan. Gadis itu tersenyum mendengar celetukan temannya yang bertubuh subur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Kekosongan yang ia rasakan sangat dingin tadi tiba-tiba berubah menjadi kehangatan. Banyak hal yang ia ingin lakukan sebagai seorang jurnalis dan penulis, keidealisan ayahnya pun seharusnya tak diambil pusing, dan masalah perasaan cinta tak ada yang perlu dikhawatirkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Rasa hangat dan semangat menjalani sesuatu mulai tumbuh di hatinya. Ia tersenyum mengingat kebodohannya tadi. Bersama teman-temannya, ia merasakan bahwa hidup memang terlalu indah untuk dikeluhkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><span style="font-family:&#34;">Jakarta</span><span style="font-family:&#34;">, 14 Desember 2006</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Modified: Jakarta, 22 Maret 2007</span></p>
<div>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><span style="color:black;"></span></p>
</div>
</div>
<div>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><span style="color:black;"></span></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kisah Caramel]]></title>
<link>http://legendabuana.wordpress.com/?p=22</link>
<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 10:13:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>legendabuana</dc:creator>
<guid>http://legendabuana.wordpress.com/?p=22</guid>
<description><![CDATA[Akhirnya setelah hampir 7 minggu menjelajah hutan dan gunung di Kalimantan, sampai juga aku di Jakar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Akhirnya setelah hampir 7 minggu menjelajah hutan dan gunung di Kalimantan, sampai juga aku di Jakarta. Dan hampir 7 minggu itu pula aku tidak menghubungi Hans sama sekali. Kekasihku itu kurang menyukai kegiatanku yang berkaitan dengan naik gunung dan menjelajah hutan atau gunung. Menurutnya terlalu berbahaya bagi wanita. Sebelum aku berangkat pun kami sempat bertengkar dan Hans pun menyerah. Ia membiarkan aku pergi. Aku tidak menyukai Hans yang begitu keras kepala melarangku mengikuti kegiatan-kegiatan itu. Tetapi, aku pun begitu keras kepala menjalani hal yang aku suka sehingga terkesan tak mempedulikan dirinya. Aku tidak terlalu peduli dengan perasaannya padahal ia begitu baik mengkhawatirkanku. Kalau dipikir-pikir sepertinya ia yang selalu memperhatikanku dan mengucapkan kata-kata sayang. Lalu sebenarnya apa arti Hans bagiku? Terlepas dari sikapnya yang seperti itu, aku sayang dia tapi aku terlalu gengsi untuk mengakuinya padahal ia kekasihku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Rinai air hujan turun membasahi bumi. Tanah pun mengeluarkan bau yang sedap karena sentuhan hujan. Wangi segar pepohonan memenuhi ruang jiwa serasa ada semangat baru yang muncul didalam diri. Angin bertiup kencang membuat tubuh menggigil kedinginan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Cara, kamu ngapain disitu?” tegurku ketika melihat gadis manis yang kupanggil Cara termenung di bangku biru dengan tangan yang terjulur ke arah hujan. Gadis itu menoleh melihatku, kemudian tersenyum dan berjalan ke arah klub jurnalistik dan sastra yang pernah dipimpin olehnya satu tahun lalu. Ada yang berbeda dengan senyumannya. Dan matanya yang biasanya berbinar terlihat redup. Tak ambil peduli karena aku baru sampai di Jakarta, tapi tak urung tanda tanya besar muncul dibenakku, “Apa karena Caya?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>From: Caramel</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>To: Hazel</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Sent: Sunday, January 8, 2006 12:09 AM</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Subject: Tentang Cahayaku</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em>Hazel, aku pikir semuanya baik-baik saja. Aku tidak pernah menduga hal ini akan terjadi. Semua begitu tiba-tiba hingga membuatku melayang. Setelah lebih dekat lagi, entah kenapa aku merasa asing padahal bisa dibilang aku-lah gadis yang paling dekat dengannya. Dia tidak pernah memberitahu apa yang ada di hati dan pikirannya. Aku tahu semua cerita, semua kisah pasti memiliki akhir. Setiap gadis pasti tidak pernah tahu akhir dari kisahnya bahagia atau tidak sebelum ia menjalaninya, tetapi aku sudah bisa meraba bahwa kisahku akan berakhir dengan uraian air mata. Dan yang pasti aku tidak pernah tahu kapan kisahku akan berakhir. Walaupun perih aku harus tetap menjalaninya karena aku ingin tahu kapan kisahku berakhir dan benarkah akan berakhir dengan air mata yang membasahi pipiku?</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Email yang dikirim oleh Cara membuatku khawatir akan keadaan dirinya. Hari-hari belakangan ini Cara terlihat lebih murung. Padahal harusnya ia berbahagia karena perasaannya kepada Caya berbalas setelah satu tahun mereka bersahabat dan memendam rasa itu. Hampir 6 bulan mereka terlihat akrab dan sangat dekat. Dimana ada Cara pasti ada Caya. Apa yang telah terjadi hingga membuat Cara terlihat begitu murung?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Kulangkahkan kakiku menuju jendela kamar setelah aku matikan komputer di meja belajarku. Sebelum kututup jendela, kulihat langit malam yang begitu mendung hingga tak terlihat setitik cahaya bintang. Tak sabar aku menunggu kelam berganti terang agar segera aku menjemput Cara di rumahnya. Bersama menuju ke kampus dan mendengarkan keluh kesahnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span> </span>“Selamat pagi, Cara,” tegurku begitu ia naik ke mobilku dengan harapan dia akan berceloteh riang. Tak seperti biasanya, hari ini ia hanya tersenyum.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">“Kamu kenapa? Cerita dong ada apa? Gila ya aku baru sampai Jakarta 1 minggu lalu dan kamu masih belum kasih tahu ada gosip apa di kampus dan terlebih lagi cerita kamu tentang Caya,” cerocosku menghilangkan keheningan diantara kami. Dan Cara masih memandang keluar jendela mobilku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">“<em>Babe</em>, nanti siang nggak ada kuliah kan? Ke Cozy yuk, pengen coklat panas nih maklum di gunung aku cuma minum air putih doang. Lagipula udara hari ini dingin banget jadi pengen coklat panas-nya Cozy. Mau kan?” cerocosku lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">“Boleh, aku juga pusing nih pengen <em>butter-caramel</em> hangat.” Akhirnya keluar juga beberapa patah kata dari mulut sahabatku itu. Aku tahu kalau dia paling suka ke Cozy, café di belakang kampus yang suasananya sangat bersahabat dan hangat selain <em>live music</em> yang terus-menerus dimainkan dari pukul 11 siang hingga 11 malam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Saat mengikuti kuliah hari ini, rasanya waktu berjalan amat lambat. Mungkin karena aku ingin kuliah ini segera usai sehingga aku bisa segera ke Cozy dan mendengar ocehan sahabatku itu. Sudah lama aku tak mendengar kicauannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Jam di tanganku akhirnya menunjukkan pukul 13.30. Dan itu artinya, kuliah untuk hari ini selesai sudah. Dosen belum keluar kelas tetapi aku sudah berlari keluar. Setengah berlari, aku menuju tangga keluar gedung Y dan kubelokkan badanku ke arah kiri. Sambil menghindar dari gerimis siang itu, aku menyebrang jalan menuju Cozy.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Duh maaf ya Ra. Kamu nunggu lama ya?” tanyaku begitu melihat Cara di sofa sebelah kanan pintu masuk.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Nggak kok. Aku sudah pesanin coklat hangat buat kamu.” Senyumnya mengembang dan suaranya sudah seperti biasa, bernada riang. Di hadapannya sudah ada <em>butter-caramel</em> yang isinya tinggal separo serasa menunjukkan bahwa peminumnya sudah datang sejak lama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Thanks. Wah, aku kangen banget pengen kesini setelah balik dari Kalimantan. Belum sempat karena kan aku harus bikin laporan perjalananku,” ocehku dan Cara hanya tersenyum.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Enak ya. Kalau ada waktu kita traveling berdua yuk? Aku pengen refreshing nih. Jenuh di Jakarta.” Mulutnya menguncup seakan-akan mengeluhkan dunia padahal dunia terlalu indah untuk dikeluhkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Ra, Caya kemana? Tadi kok nggak kuliah? Harusnya kan kuliah bareng aku jam 11 tadi,” tanyaku sambil mengaduk-aduk coklat hangat yang baru datang dan gadis manis yang aku tanya hanya menunduk sambil menghirup minumannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Kalau boleh tahu kalian ada masalah?” tanyaku lagi dan kembali mata Cara meredup. Ia pun menggelengkan kepala.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Masalah? Kamu sudah bisa menebak kan masalah aku dan Caya apa?” Cara malah balik bertanya dan membuatku mereka-reka masalah yang terjadi diantara mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Dia bilang sudah nggak mungkin untuk diteruskan karena kita berbeda tapi dia juga bilang kalau perasaan dia ke aku nggak akan berubah.” Kalimat itu dikeluarkan Cara dengan suara tertahan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Bohong. Jadi, putus nih?” Tanpa sadar aku berucap dan Cara menganggukkan kepalanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Masa aku bohong sih? Baru tadi aku bicara dengan dia sebelum kamu datang.” Cara tertawa kering seakan kejadian yang akan ia ceritakan merupakan kebodohannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span><span> </span>“Ternyata kisahku berakhir hari ini dan berakhir dengan menyedihkan tetapi aku nggak berurai air mata kok karena dia masih sayang aku. Hanya status hubungannya saja yang berubah.” Cara tersenyum manis dan dimatanya terlihat rasa tulus.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Kulayangkan pandanganku ke langit kelam tak berbintang. Mendung masih menggelayut bukan pertanda akan turun hujan. Seperti wajah Caramel tadi siang, muram tetapi bukan berarti air mata akan mengalir di pipinya. Entah apakah malam ini ia sedang menangisi kisah cintanya yang telah berakhir dengan akhir yang menyedihkan?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Masih teringat akan email Cara yang dikirimkan tadi malam. Mungkinkah sebenarnya ia sudah tahu bahwa kisah cintanya berakhir hari ini? Kurasa ia tahu pasti apa yang ada di pikiran Caya. Keputusan yang diambil oleh Caya mungkin berat bagi mereka berdua. Hanya karena prinsip yang berbeda maka kasih yang ada diantara mereka pun tertahan oleh prinsip tersebut. Dan yang dapat mereka lakukan hanya menatap kisah lalu mereka sebagai kenangan yang indah. Beruntunglah pasangan-pasangan yang tidak memiliki perbedaan yang mendasar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Satu hal yang membuatku tersadar, aku dan Hans, walaupun sering bertengkar mengenai minatku tetapi tak ada satu pun perbedaan yang dapat memisahkan kami. Entah mengapa malam ini aku begitu melankolis, semuanya membuatku tersadar bahwa aku menyayangi Hans lebih besar dari sebelumnya dan aku melupakan gengsiku untuk mengakui bahwa aku benar-benar menyayanginya. Tanpa sadar aku sudah mengirimkan pesan manis yang tidak pernah kukirimkan sebelumnya ke telepon seluler Hans.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em><span> </span>Hans, aku sudah pulang…</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em>Aku kangen kamu…</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em>Aku sayang kamu…</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em>XOXO</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>From: Hazel</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>11.36 pm 9-JAN-2006</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right">
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Jakarta</span><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">, 10 Agustus 2006</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tidak Selamanya Hujan Menyebalkan]]></title>
<link>http://legendabuana.wordpress.com/?p=21</link>
<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 10:10:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>legendabuana</dc:creator>
<guid>http://legendabuana.wordpress.com/?p=21</guid>
<description><![CDATA[ Hujan lagi? Menyebalkan. Bagiku, selamanya hujan adalah hal yang menyebalkan. Duh sebentar lagi jal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> Hujan lagi? Menyebalkan. Bagiku, selamanya hujan adalah hal yang menyebalkan. Duh sebentar lagi jalan-jalan pasti macet. Kalau tidak salah hitung, sudah 6 kali hujan turun sepanjang hari ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>“De, sepertinya tambah deras deh.” Seru Fanie, sahabatku yang duduk di samping kiriku di dalam sedan hitam kesayanganku ini. “Makin dingin pula, nggak usah pakai AC ya?” Sambungnya lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>“Nggak usah pakai AC? Kan jadi pengap, Fan.” Sewotku. Betul dugaanku. Dalam waktu hitungan menit, mobil-mobil di sekitarku berjalan perlahan. Hujan turun sangat deras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>“Terus gimana dong? Dingin nih, aku lupa bawa <em>sweater</em>.” Serunya, kemudian ia terdiam beberapa saat dan berkata, “eh, kita mampir ke Life aja. Ngopi-ngopi sambil baca buku asyik juga tuh.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>“Life?? Apaan tuh?” Tanyaku menengok sekilas ke Fanie dengan mengerutkan keningku dan kembali menatap jalan di depanku sambil sesekali menginjak rem karena kendaraan di depanku sekali-sekali berhenti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>“Itu lhoh, <em>library-café</em> yang baru dibuka 2 minggu lalu di dekat rumah sakit ibu-anak. Ada di kiri jalan di depan, sebentar lagi kita sampai kok. Untung belum kelewatan.” Oceh Fanie. <em>Library-café</em>? Boleh juga deh, nongkrong dulu. Masih jam 7, belum terlalu malam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>“Ya udah, kasih tahu gue harus belok kapan.” Sahutku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>***<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Lima</span><span style="font-family:Arial;"> belas menit kemudian, Fanie dan aku sudah berada di dalam café yang di bagian dalamnya terdapat berpuluh-puluh rak buku. Kami mengambil tempat duduk dekat dengan jendela untuk melihat hujan turun. <em>Caramel</em> panas milikku mengepul dan mengeluarkan bau yang harum dihadapanku sedangkan <em>Espresso</em> milik Fanie mengeluarkan keharuman biji kopi yang membangkitkan semangat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Kamu mau minjem buku? Aku udah jadi <em>member</em> disini.” Kata Fanie.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“<em>Member Library</em> ya?” Tanyaku disertai dengan anggukan Fanie. “Boleh juga. Bayar berapa? Buku-bukunya lengkap?” Sambungku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Gratis. Buku-bukunya lumayan lengkap. Buku yang kamu cari kemarin di Gramedia apa? Anna Karenin ya? Yang karangan Leo-Leo itu ada kok. Komik Topeng Kaca yang kamu suka, lengkap.” Jawab Fanie layaknya tim promosi Library-Café ini. Aku tertawa geli melihat tingkah sahabatku. Aku hirup <em>Caramel</em>-ku sambil melayangkan pandangan ke luar jendela. Hujan masih terus turun, tambah lebat malah. Aku benci hujan. Mungkin karena pertama kali aku melihat kekasihku, Ruben mencium gadis lain ketika hujan turun. Kemudian, ketika akhirnya aku putus dengan Ruben hujan turun pula. Tidak ada hubungannya sih, tetapi hujan selalu membuatku menjadi seorang yang melankolis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Bengong terus. Kenapa? Masih mikirin Ruben ya? <em>He’s jerk</em>. Udahlah <em>fuggedabout him</em> okay? Oh ya, pokoknya kamu harus jadi <em>member</em> disini karena <em>owner</em>-nya lucu banget.” Kata Fanie menggebu-gebu yang memecah lamunanku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Kata siapa<em> owner</em>-nya lucu?” Tanyaku geli melihat wajah Fanie.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Kataku. Baru saja aku ngomong hehehe… Mba Fiena pernah kesini bareng teman-temannya dan dia bilang <em>owner</em>-nya lucu banget masih muda pula.” Fanie tersenyum simpul. Oh, pantesan Fanie jadi <em>member</em>, ternyata ada niat lain hehehehe….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Eh, mas…mas…daftar jadi <em>member </em>dong.” Teriak Fanie tiba-tiba pada seorang laki-laki yang memegang kertas-kertas tidak jauh dari tempat kami duduk. Laki-laki itu tersenyum dan menghampiri kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Ya, mba? Mau jadi <em>member</em>? Berdua? Bawa foto? Kalau nggak bawa, menyusul nggak apa-apa kok.” Tanya laki-laki itu ramah dan ia pun duduk di <em>puff</em> di samping kiriku dan samping kanan Fanie.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Nggak, sendiri eh aku sih udah, temanku yang mau jadi <em>member</em>.” Jawab Fanie, mukanya bersemu merah pertanda dia gugup. Pasti karena laki-laki ini. Memang menarik. Kulitnya bersih, matanya tajam, badannya besar, tangannya juga besar, hidungnya mancung, rambut cepak, alisnya tebal, lekuk bibir yang indah. Struktur wajah yang sempurna. Padahal ia bisa jadi model tapi kok malah jadi pelayan disini? Aah itu kan jalan yang sudah diatur Tuhan. Hemm…sepertinya aku akan sering datang nih kalau pelayannya dia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Aauw!! Gila, kira-kira dong kalau injak kakiku. Sakit tau!” Teriakku karena kaki kananku diinjak Fanie.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Maaf, De hehehe…” Fanie menunjuk formulir dihadapanku. Pelayan itu cekikikan. Menyebalkan. Tapi kok makin cakep ya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Pinjem pulpen, Fan.” Pintaku. Sebelum Fanie mengambil pulpen di tasnya, pelayan itu sudah mengulurkan pulpennya. Aku mengambilnya dan sedikit menyentuh tangannya. Hangat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Te…terima kasih.” Kataku sambil tersenyum. Duh berengsek, kenapa aku jadi gugup begini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Diisi saja dulu. Saya tinggal, nanti akan ada yang mengambil.” Katanya sambil berdiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tidak lama, aku pun sudah sibuk mengisi formulir tersebut sambil mendengarkan ocehan Fanie.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Ya ampun tuh cowok ganteng banget ya. Tapi sayang pelayan.” Kata Fanie sedikit meremehkan pekerjaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Memang kenapa Fan kalau dia pelayan? Mungkin saja dia mahasiswa yang <em>part-time</em>, seperti Ega yang tajir banget tapi <em>part-time </em>jadi pelayan di Starbucks.” Kataku masih konsen mengisi formulir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Formulirnya, sudah mba?” Tanya seorang perempuan, membuatku menengok ke arahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Sebentar lagi ya, mba.” Sahutku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Baik, saya tunggu.” Perempuan itu menunggu sambil berdiri. Aneh, pelayan yang tampan tadi menunggu sambil duduk. Tak ambil pusing, buru-buru aku selesaikan mengisi formulir yang diakhiri dengan tanda tanganku dan aku serahkan fotoku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Ditunggu 30 menit untuk mencetak kartunya ya, Mba.” Kata perempuan itu yang disertai dengan anggukanku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Sepanjang hari hujan terus, rasanya aku ingin pulang dan tidur di ranjangku yang empuk, di bawah selimutku yang hangat. Tidak…tidak….kalau aku pulang pasti akan sendiri di kamar dan aku akan kembali mengingat Ruben. Tidak, aku tidak mau pulang. Pfiuh…aku lirik jam tanganku, 10 menit lagi kuliah siang ini selesai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“De, ke Life yuk?” Bisik Fanie pelan takut terdengar oleh dosen yang berdiri di hadapannya. Aku pun mengangguk dan terbayang dibenakku pelayan tampan Life. Aku tersenyum sendiri. Beberapa hari lalu ketika aku meminjam novel, pelayan tampan itu tersenyum padaku. Hari ini pasti dia ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Gerimis masih terus turun ketika kami memasuki tempat parkir <em>library-café</em> itu. Kami berlari kecil menghindar dari terpaan air menuju ke dalam café.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Selamat siang. Mau pesan apa?” tegur seseorang dan ternyata pelayan tampan itu. Aku menatapnya sambil menyebutkan pesananku, <em>Hot Royal Caramel</em>. Kudengar Fanie menyebutkan <em>Espresso</em> kesukaannya. Mataku terus tertuju pada pelayan itu hingga ia menghilang ke balik tembok berwarna merah pemisah antara <em>café</em> dan <em>library</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Woy, mata tuh?” semprot Fanie, membuatku kaget dan tertawa kecil. “Heran deh, masa sih kamu ngegebet pelayan itu?” sambungnya. Aku mengerutkan kening.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Ada yang salah?” Tanyaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Dia pelayan, De.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Terus? Aku nggak peduli. Dia ganteng ya?” Untuk pertama kalinya pelayan itu aku puji, aku tidak peduli dengan tatapan Fanie yang seakan-akan bilang bahwa aku gila. Aku tertawa geli melihat ekspresi sahabatku itu. Daripada kena semburan Fanie lagi, aku mengambil novel “Anna Karenin” karya Leo Tolstoi yang aku pinjam beberapa hari lalu dari <em>library </em>Life.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Ini <em>Esspreso</em>-nya dan untuk nona yang manis ini <em>Hot Royal Caramel</em> khusus untuk kamu.” Goda pelayan tampan itu yang tidak aku sadari kedatangannya. Aku tersenyum senang. <em>What did he said</em>? Nona yang manis? Ampun deh. Sahabat yang duduk di hadapanku melotot ketika aku tersenyum kepada pelayan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Terima kasih, tuan yang tampan.” Tanpa sadar aku mengucapkan kata-kata itu yang membuat Fanie menganga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Terima kasih juga aku dibilang tampan. Baru mulai baca karya-nya Tolstoi ya?” Tanya pelayan itu yang tiba-tiba duduk di <em>puff</em> sebelah kiriku. Aku sih senang-senang saja tetapi Fanie…o-ow…wajahnya kok sudah seperti kepiting yang direbus ya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Nggak kok. Dulu aku pernah baca Tuan dan Hamba, Perang dan Damai, dan sebelum pinjam Anna Karenin, aku baru selesai baca Kebangkitan.” Ucapku penuh semangat. Kalau soal Tolstoi bisa dibilang aku cukup tahu. <em>He’s my favorite writer</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Wow…berat juga bacaan kamu. Aku suka banget sama Tolstoi khususnya novel Kebangkitan.” Katanya. Aku menganggukkan kepalaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Aku juga suka Kebangkitan, banyak banget filosofi yang terkandung didalamnya.” Kataku dan kemudian mengalirlah dari mulutku adegan-adegan dimana Nekhlyudov yang berjuang untuk mendapatkan kembali cinta Katyusa, tokoh dalam novel itu. Sepertinya laki-laki tampan ini cukup cerdas sebagai seorang pelayan. Dia tahu tentang filsafat seperti bagaimana pendapat Plato mengenai ultim manusia, dia juga tahu mengenai sejarah dan kebudayaan Indonesia, dia juga tahu tentang musik kesukaanku Britpop. Dia tahu semua hal ck…ck…ck… Wawasannya yang luas membuatku kagum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tidak terasa <em>Caramel</em>-ku hampir habis dan Fanie manyun melihatku asyik berbicara dengan pelayan ini tanpa mempedulikan dia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Maaf ya? Aku jadi ganggu kalian.” Ucapnya merasa tidak enak melihat wajah Fanie yang kesal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Minuman kalian sudah hampir habis. Ditambah lagi ya?” Katanya seperti sedang membujuk Fanie yang kelihatan sangat marah padanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Nggak usah kok, kami sudah mau pulang.” Suara Fanie terdengar sangat ketus. Aku jadi tidak enak hati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Kok pulang? Eh maaf…” Pelayan tampan itu sedikit kecewa sambil melirikku. Aku pun tersenyum dilirik begitu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Nggak apa-apa kok.” Jawabku. Fanie sudah siap-siap berdiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Benar nih nggak mau lagi? Ya sudah kalau begitu kalian nggak usah bayar. Aku yang traktir. Oh ya, terima kasih ya sudah ngobrol-ngobrol. Sering-sering kesini ya? Aku tunggu kamu. Ehm…nama kamu siapa?” Kata pelayan tampan itu sambil malu-malu melihat ke arahku. Kali ini Fanie sudah berdiri dan mau tidak mau aku ikut berdiri dan pelayan itu juga ikut berdiri. Tangannya yang besar terulur ke arahku. Aku menyambut tangannya dan mengucapkan namaku,<span> </span>“Dena.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Ia tersenyum kaget. Dan ia menyebutkan namanya, “Aku Dean. Aku <em>owner</em> Life. Kamu sering-sering datang ya? Eh, aku boleh minta nomer HP kamu?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aku kaget setengah mati, bukan karena namaku dan dia mirip, tetapi laki-laki yang disangka pelayan olehku dan sahabatku yang konyol itu ternyata pemilik <em>library-café</em> ini. Dan ia juga meminta nomor HP-ku. Mulut Fanie langsung menganga lebih lebar dari tadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Hemm…ternyata tidak selamanya hujan itu menyebalkan. Kali ini aku merasa beruntung hujan datang. </span><span style="font-family:Wingdings;"><span>J</span></span><span style="font-family:Arial;"></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mata Yang Tersenyum]]></title>
<link>http://legendabuana.wordpress.com/?p=20</link>
<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 10:06:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>legendabuana</dc:creator>
<guid>http://legendabuana.wordpress.com/?p=20</guid>
<description><![CDATA[ 
Di tepi dermaga ia duduk membisu
Melihat lukisan alam terpampang jelas
Namun, matanya kosong membe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Di tepi dermaga ia duduk membisu</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Melihat lukisan alam terpampang jelas</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Namun, matanya kosong membeku</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Seakan lukisan itu hal yang biasa baginya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Pada satu titik mataku terbius</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Dirinya, dengan segala kekosongannya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Ingin hati tuk merengkuh</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Apa yang ada di jiwanya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Sudah hampir satu minggu aku selalu melihatnya duduk di tepi dermaga. Menatap laut yang berwarna biru keemasan dengan tatapan kosong. Tak mempedulikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Serasa ia berada di dunianya sendiri tanpa ada orang lain. Matanya yang indah dan tajam terlihat sendu. Menatap matahari terbenam dengan kesenduannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Memasuki minggu kedua, hatiku tergerak untuk duduk di sampingnya. Ia hanya menoleh sekilas kepadaku, padahal aku sudah melempar senyuman manisku. Dilihat dari dekat ternyata ia cukup tampan. Kulit cokelatnya yang terawat dan bersih menandakan ia berasal dari keluarga berada. Alisnya hitam tebal dengan bola mata yang jernih bagai mata bayi tanpa dosa. Ia mengenakan kaos katun putih yang nyaman dan celana pendek katun berwarna krem. Tangan kanan dan jari-jarinya dibalut perban menandakan bahwa ia pernah mengalami kejadian yang membuat tangannya cedera. Aku terus menatapnya lekat-lekat tetapi tatapannya terus tertuju pada lautan yang tak berujung. Aku yakin kalau ia tahu aku menatapnya lekat-lekat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Sama seperti hari-hari sebelumnya, ia terus duduk membeku melihat lembayung senja berganti dengan kelamnya malam. Setelah melihat bintang yang paling terang muncul, wajahnya terlihat lega dan ia berdiri kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan menelusuri pantai ke arah utara menaiki tangga menuju kompleks pertokoan di pinggir jalan. Aku terus melihat punggungnya hingga ia menghilang di balik ramainya orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan raya di atas pantai. Ia menghilang bersamaan deburan ombak malam hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Entah mengapa aku sangat ingin melukisnya. Melukis struktur wajahnya yang sempurna. Melukis kesenduannya yang mempesona. Dan melukis makna matanya yang misterius.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>“Namanya Hans,” ujar Jamie –sahabatku– pada suatu sore ketika aku tak lagi duduk di samping laki-laki itu. Aku menoleh ke arah Jamie. Kemudian wajah bulat yang selalu membuatku tertawa itu menceritakan kisah Hans yang ia ketahui dari kakak Hans yang tinggal di dekat rumahnya. Hans adalah pelukis terkenal di kota tetangga yang dikelilingi dengan bukit-bukitnya yang indah. Ia pelukis naturalis dan kurang menyukai udara panas pantai. Hampir tiga bulan lalu, lukisannya mendapatkan penghargaan seni rupa tertinggi oleh Dewan Kesenian Nasional. Pada malam penghargaan, ia dan kekasihnya mengalami kecelakaan. Rasa bersalah akan kematian kekasihnya membawanya ke tempat yang kurang ia sukai. Kota pantai, daerah tempat ku tinggal hampir 20 tahun. Rasa kecewa karena tangan kanannya tidak dapat berfungsi dengan baik lagi membuat ia terus tenggelam menatap lembayung berganti dengan kelam. Kelamnya malam membawa dirinya akan kenangan kekasihnya dan lukisan hatinya. Cerita Jamie tentang dirinya membuatku tersentuh sekaligus kecewa. Tersentuh karena ia begitu mencintai kekasihnya yang terus ia kenang dan kecewa karena tingkah laku yang menyiksa dirinya seperti manusia yang tidak memiliki ultim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Minggu keempat aku melihatnya masih termangu dengan tatapan kosong menatap laut yang berwarna keemasan. Tanpa aku sadari, aku pun duduk di sampingnya di tepi dermaga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aku keluarkan buku sketsaku yang berukuran A3 serta peralatan melukisku. Dan aku mulai melukis dirinya. Sepertinya ia tidak merasa terganggu aku melukisnya. Aku perhatikan bentuk wajahnya dari samping. Dan mulai kutuangkan ke dalam buku sketsaku. Sebelum cahaya matahari menghilang aku menuliskan puisi di bawah sketsaku,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Terlalu indah mata yang kosong menatap kenangan lalu membeku</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Adakah kudapat melukismu dengan mata indahmu yang tersenyum?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tak lupa kucantumkan namaku dan tahun pembuatan sketsa ini, <em>Hazel, 2006</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tidak terasa langit yang berwarna lembayung mulai meredup. Menandakan <span> </span>malam segera tiba. Lampu-lampu di dermaga sudah mulai menyala. Lelaki itu bangkit dan tanpa sadar aku mengucapkan terima kasih. Seakan-akan aku berterima kasih kepada modelku. Ia menatapku. Ekspresi wajahnya tidak berubah. Ia menatapku dan melihat buku sketsaku. Matanya seakan terkejut melihat wajahnya ada dalam bentuk sketsa di bukuku. Sudut bibirnya naik membentuk satu senyuman di wajahnya yang ramah. Dan tidak terasa lagi olehku kekosongan pada matanya. Matanya tersenyum melihatku dan wajahnya dalam sketsaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><span style="font-family:Arial;">Jakarta</span><span style="font-family:Arial;">, 15 Maret 2007</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apakah idealisme akan selalu menjadi sebuah utopia? ]]></title>
<link>http://lakso.wordpress.com/?p=60</link>
<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 23:40:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>lakso</dc:creator>
<guid>http://lakso.wordpress.com/?p=60</guid>
<description><![CDATA[Beberapa bulan yang lalu, saat saya membaca &#8216;Laskar Pelangi&#8217; ada salah satu pernyataan m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa bulan yang lalu, saat saya membaca 'Laskar Pelangi' ada salah satu pernyataan menarik yang saya ingat, yaitu saat Andrea Hirata menceritakan salah satu juri karnaval sekolahnya. Berikut ini adalah kutipannya :</p>
<blockquote><p><em>... Gengsi ini juga tak terlepas dari integritas para juri yang dipimpin oleh seorang seniman senior yang sudah kondang, Mbah Suro namanya. Mbah Suro adalah orang Jawa, ia seniman Yogyakarta yang hijrah ke Belitong karena idealisme berkeseniannya. Karena sangat idealis maka tentu saja Mbah suro juga sangat melarat.</em></p></blockquote>
<p>Kalimat terakhir dari pernyataan itulah yang mengusik pikiran saya. Ya, tentang mempertahankan idealisme kita. Apakah ada yang salah ketika kita mempertahankan idealisme yang kita miliki? Apakah menjadi idealis selalu berakhir dengan kemelaratan dan kesusahan? Jika memang demikian, untuk apa kita mempertahankan idealisme kita? Seberapa pentingkah mempertahankan idealisme? Apakah idealisme kita akan menjadi sebuah utopia?</p>
<p><a href="http://lakso.files.wordpress.com/2008/06/mtnclimber.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-61" src="http://lakso.wordpress.com/files/2008/06/mtnclimber.jpg?w=300" alt="" width="300" height="200" /><!--more--></a></p>
<p>Idealisme menurut saya adalah sebuah cita-cita luhur ... sebuah keinginan untuk mencapai sebuah kondisi yang ideal. Idealisme tiap orang dapat berbeda satu sama lain, karena setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda-beda sehingga mereka dapat memiliki definisi yang berbeda-beda pula tentang sebuah kondisi ideal. Sebuah idealisme yang dimiliki oleh seseorang berawal dari masa lalunya, kondisi lingkungannya, agamanya, atau hasil dari interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. Disadari atau tidak, sebuah idealisme dapat membimbing perubahan dalam diri atau menuntun tingkah laku seseorang. Karena sedemikian besarnya pengaruhnya dalam kehidupan seseorang, mahar dari idealisme tentunya tidaklah murah. Seseorang akan sering kali dihadapkan pada kondisi untuk mengambil sebuah keputusan sulit ketika idealismenya berhadapan dengan lingkungan yang jauh berbeda atau bahkan bertentangan.</p>
<p>Saya tidak tahu apakah kalian memiliki sebuah idealisme atau tidak. Saya juga tidak tahu apakah kalian masih teguh mempertahankan idealisme itu atau tidak. Saya hanya ingin mengajak kalian untuk kembali menyimak lagi idealisme yang kalian yakini selama ini atau mencoba mendorong kalian untuk menemukan idealisme kalian. Jangan sampai kita terjebak pada idealisme semu yang tidak patut kita perjuangkan. Seperti yang telah saya sempat singgung di posting sebelumnya, referensi yang dapat kita gunakan untuk mendefinisikan kondisi ideal adalah agama, Islam sebagai rahmatan lil 'alamin. Coba kita pahami lagi apakah hakikat di balik penciptaan kita di muka bumi ini. Apakah selama ini kita hidup sesuai dengan  hakikat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT? Perhatikan juga kondisi di sekitar kita, kondisi masyarakat dan lingkungan kita. Apakah semuanya sudah berjalan dengan baik dan teratur sesuai dengan tuntunan Islam? Apakah yang dapat kita lakukan untuk memperbaikinya? Dengan memahami hakikat diri, segenap potensi dan kemampuan yang kita miliki, serta kondisi atau permasalahan yang ada di sekitar kita, maka kita akan menemukan definisi kondisi ideal dan membuat turunan-turunannya dalam kehidupan kita.</p>
<p>Mendefinisikan sebuah idealisme itu belum cukup. Idealisme menuntut pengorbanan dan perjuangan. Maka langkah selanjutnya adalah bagaimana kita memperjuangkannya. Luruskan niat, maksimalkan ikhtiar, dan senantiasa tawakal dalam mempertahankan idealisme kita. Tidak perlu takut menjadi melarat atau terasing karena Allah SWT menilai setiap ikhtiar yang kita lakukan dan akan memberikan balasan yang setimpal. Idealisme  tidak harus menjadi sebuah utopia melainkan dapat menjadi sebuah keniscayaan. Idealisme, mimpi, dan cita-cita adalah untuk diupayakan bukan hanya untuk di awang-awang.</p>
<p>Selamat berjuang kawan...!</p>
<blockquote><p><em>Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis, sampai batas-batas sejauhnya.</em></p>
<p><em> (Soe Hok Gie)</em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tuhan Memilih Takdir dan Nasibku dari Mimpi yang Kurajut]]></title>
<link>http://legendabuana.wordpress.com/?p=18</link>
<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 10:41:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>legendabuana</dc:creator>
<guid>http://legendabuana.wordpress.com/?p=18</guid>
<description><![CDATA[
Ada sebuah rahasia dibalik mimpi yang terwujud. Yakni, keyakinan akan mimpi tersebut pasti terwujud]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Ada sebuah rahasia dibalik mimpi yang terwujud. Yakni, keyakinan akan mimpi tersebut pasti terwujud. Seperti aku yang selalu bermimpi untuk memiliki dirinya. Aku memiliki keyakinan bahwa suatu saat nanti, aku pasti dapat memilikinya. Sebab ia sosok yang indah dimataku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Berawal dari rasa sakit yang disebabkan oleh Louis<span lang="IN">. </span><span lang="FI">Ia teman main kakak laki-lakiku yang beda usia sekitar 3 tahun denganku. Aku mengenal Louis sejak masa sekolah dasar. Aku dekat dengannya sejak kelas 2 sekolah menengah dan terus berlanjut hingga aku kuliah. Selama 7 tahun ini, aku terus bermimpi untuk menjadi pengantinnya. Mimpi anak kecil yang menginginkan menjadi pengantin laki-laki yang merupakan kekasih pertama dan terakhirnya. Aku yang terlalu naïf dan polos dalam menjalani hubungan dengan Louis tidak pernah tahu bahwa laki-laki itu bisa berpaling ke wanita yang lebih cantik atau lebih manis atau yang sesuai dengan dirinya. Aku percaya dengan kata-kata manis dan rayuan-rayuannya yang mampu membuatku terbang hingga keawan. Tapi tanpa kusadari, ternyata aku sudah jatuh sampai ke perut bumi saat ia berjalan dengan teman kuliahnya dulu. Menyakitkan tapi tak ada air mata yang keluar. Hanya desahan nafasku yang panjang yang membuatku terbangun dari mimpi-mimpi yang ternyata kurajut sendiri. Selama satu tahun kemudian aku menjalani hidup dengan hati yang sepi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="FI">Perlahan aku bangkit dan mencoba menikmati hidup dalam sepiku. Saat berpisah dengan Louis, aku pikir aku tidak akan pernah terpesona pada seorang laki-laki lagi. Terlalu menyakitkan, hubungan yang sudah aku bina selama tujuh tahun hancur begitu saja. Yang paling menyakitkanku adalah kebiasaan yang telah aku jalani selama tujuh tahun terakhir bersama Louis tiba-tiba tidak aku jalani lagi sekarang. Kebiasaan bersama orang yang kita cintai adalah racun yang dapat menghancurkan kita pelan-pelan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="FI">Adalah ia, sosok yang indah itu, yang mewarnai hidupku selanjutnya. Mengentaskan sepi di hati dan kekosongan yang melandaku. Hanya ia yang mampu membuatku begitu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="FI">Sebelum bertemu dengan sosok yang indah itu, aku menjalani hidup dengan hati yang gelisah dan sepi. Kemudian, sosok yang indah itu, Mataniari, datang mengobati kegelisahanku ketika tak ada yang dapat mengobatinya bahkan Tuhan pun tak dapat mengobatinya, itu menurutku. Ia yang memenuhi kehampaan hati ini ketika Tuhan tak dapat memenuhinya, itu juga menurutku. Ia yang menyelamatkan aku dari situasi kesendirian yang mencekam ketika Tuhan tak dapat menyelamatkan aku, itu masih menurutku. Oleh karenanya, kepadanya kupagutkan hasratku, kuikatkan hasratku kepadanya. Tapi tak pernah kumengikat dirinya dengan cintaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Aku selalu ber</span><span lang="FI">pikir</span><span lang="FI"> </span><span lang="FI">Tuhan memberikanku rasa kasih untuk kuberikan pada seseorang yang aku kasihi. Tuhan memberikanku rasa kasih yang berlimpah sehingga aku tak dapat membendung rasa kasih yang kuberikan padanya. Semua mengalir begitu saja dan terhenti ketika aku menemukan batas yang tak mungkin aku tembus. Pada saat itu aku berpikir, Tuhan memberikan aku rasa sakit yang begitu perih untuk aku lalui. Akhirnya aku mencoba untuk bersahabat dengan waktu. Aku membiarkan waktu membasuh perihku. Mengobati rasa sakit karena rasa kasih yang diberikan oleh Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span></span><span lang="PT-BR">Semakin bertambah dewasa usiaku, semakin bertambah pula rasa hampa dijiwaku. Hanya seorang yang aku kasihi yang dapat memenuhi kehampaan jiwa ini. </span><span lang="FI">Mungkin lebih tepat jika aku katakan menghilangkan rasa hampa dan bukan memenuhi rasa hampa. Dengan hilangnya rasa hampa, aku dapat memperhatikan warna-warni dunia yang beragam. Jika ia datang dengan memenuhi rasa hampa, aku hanya bisa melihat warna-warni dunia tanpa memperhatikannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span><span> </span>Pada akhirnya, aku pun berpikir, manusialah yang menciptakan sebuah perasaan yang tak dapat dicegah rasa sakitnya</span><span lang="IN">. Tuhan hanya memberikan rasa kasih kepada setiap manusia dan manusia lah yang memilih memberikan rasa kasih tersebut kepada siapa yang pantas. Bila ia memberikan rasa kasih tersebut kepada orang lain yang tidak pantas maka ia akan mendapatkan rasa sakit. Rasa sakit di hati yang perihnya serasa mengiris-iris. </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;" lang="IN">Berkaca padahal itu, akupun tak lagi meyakini mimpiku pasti terwujud. Tetapi, aku merajut mimpiku untuk terwujud. Sebab, aku yakin Tuhan telah memilih takdir dan nasibku dari mimpi yang kurajut.</span></p>
<p style="text-align:right;">Jakarta, 21 April 2008</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Suara Gaia, Rakyat Negeri Kabut]]></title>
<link>http://legendabuana.wordpress.com/?p=17</link>
<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 10:34:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>legendabuana</dc:creator>
<guid>http://legendabuana.wordpress.com/?p=17</guid>
<description><![CDATA[Dahulu kala ada cerita mengenai orang-orang yang dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan yang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Dahulu kala ada cerita mengenai orang-orang yang dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan yang disebut pengikut iblis. Sebab itu, orang-orang tersebut dijauhi dan dibakar hidup-hidup seperti Joan of Arc. Cerita mengenai pengikut iblis itu berkembang lantaran, menurut legenda, iblis pernah mencuri dengar rencana-rencana Tuhan akan takdir kehidupan bagi ruh yang ditiupkan ke tubuh manusia. Kemudian iblis memilih manusia-manusia dan memberitahukan rencana-rencana Tuhan tersebut. Sehingga manusia yang dipilih iblis dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan yang seharusnya tak bisa dan tak boleh diintip.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Negeri ini adalah negeri yang selalu berselimut kabut. Maka banyak orang menyebutnya Negeri Kabut. Di pagi hari, kabut turun ke seluruh negeri mencipta kesegaran membangkit semangat untuk beraktifitas. Di petang hari, kabut pun turun membawa penat pergi setelah seharian lelah beraktifitas, waktu yang sangat nikmat untuk terlelap. Tetapi, akhir-akhir ini, kabut pun turun pada siang hari. Kabut yang membawa kegelisahan bagi rakyat Negeri Kabut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Senja merupakan seorang yang dipercaya rakyat Negeri Kabut dapat menghilangkan kabut yang turun di siang hari. Mungkin karena ia seorang tua yang dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan maka ia dipercaya oleh rakyat Negeri Kabut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Awal kabut di siang hari turun bertepatan dengan terpilihnya Presiden Siang menjadi pemimpin di negeri ini,” ujar Senja ketika beberapa rakyat negeri mimpi mengeluh mengenai kabut yang turun di siang hari. Mereka pun percaya karena Senja seorang tua yang dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Jadi bagaimana kami dapat menghilangkan kabut ini? Sebab kami tak dapat beraktifitas,” kata salah seorang rakyat menanyakan solusi pada Senja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Saya percaya, sebab saya mendapat bisikan Tuhan, bahwa kabut di siang hari akan hilang jika Presiden Siang mengundurkan diri,” ujarnya sambil tersenyum penuh rahasia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Beberapa rakyat yang mendengar perkataan Senja menyebarkannya ke teman-temannya, sanak saudaranya, kerabatnya, iparnya, dan seluruh rakyat pun mengetahui perkataan Senja. Rakyat pun mengadakan pertemuan. Isinya untuk memaksa Presiden Siang mengundurkan diri. Hampir seluruh rakyat menyetujuinya. Mereka berpendapat bahwa apa yang mereka inginkan merupakan “bisikan” Tuhan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Adalah Gaia, seorang gadis cilik yang dapat “melihat” masa lalu dan masa depan tetapi selalu ia pendam untuk dirinya sendiri. Ia melihat kesibukan orang-orang di Negeri Kabut akan perkataan Senja. Hampir seluruh rakyat setiap hari berdemontrasi di depan Gedung Kepresidenan, tidak peduli kabut yang makin menebal di siang hari. Gaia melihat sekelompok rakyat yang membakar segala sesuatu guna menepis kabut di siang hari. Keadaan semakin kacau ketika sebagian rakyat mulai merusak Negeri Kabut. Mereka berteriak-teriak di jalan raya dengan membawa obor dan membakar segala sesuatu. Keadaan yang kisruh membuat gadis cilik itu takut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Pada suatu hari ketika keadaan makin tidak terkendali, Gaia pun berlari ke rumah Senja. Senja hanya terkikik ketika gadis cilik itu mengatakan bahwa Senja membuat segalanya menjadi tak terkendali.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Aku hanya memberitahukan apa yang ‘dibisikkan’ Tuhan padaku,” sahutnya sambil tersenyum meremehkan anak kecil itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Apakah Tuhan dapat berbicara?” tanya Gaia polos.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Ya, Tuhan dapat ‘berbicara’ denganku,” jawab Senja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Bagaimana kau yakin bahwa itu Tuhan?” tanya Gaia lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>“Karena suara rakyat menurutku adalah suara Tuhan,” jawabnya gamblang. Gaia terdiam. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Senja. Yang ia mengerti adalah, Senja mengaku mendapatkan ‘bisikan’ dari Tuhan dan memberitahukannya kepada rakyat Negeri Kabut. Kemudian rakyat Negeri Kabut pun menyuarakan ‘suara’ mereka, sebab mereka yakin bahwa itu ‘suara’ dari Tuhan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Gaia pun menangis. Di alam pikirannya tergambar kekacauan yang akan berakhir dengan kematian banyak orang. Gaia pun menjadi takut. Ia adalah salah satu rakyat Negeri Kabut. Jika ia sudah dewasa nanti apakah yang ia ucapkan merupakan ‘suara’ Tuhan?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Ia teringat akan cerita ibunya yang mengetahui bahwa ia dapat ‘melihat’ masa lalu dan masa depan. Ia teringat cerita mengenai iblis yang pernah mencuri dengar rencana-rencana Tuhan akan takdir kehidupan bagi ruh yang ditiupkan ke tubuh manusia. Kemudian iblis memilih manusia-manusia dan memberitahukan rencana-rencana Tuhan tersebut. Sehingga manusia yang dipilih iblis dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan yang seharusnya tak bisa dan tak boleh diintip.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Gaia pun terdiam. Mengenai masa lalu dan masa depan yang ia ‘lihat’, ia pendam untuk dirinya sendiri. Kemudian ia berjalan pulang ke rumah dan berdoa untuk Negeri Kabut. Sebab ia meyakini doa. Doanya pada Tuhan adalah suara dirinya sebagai rakyat Negeri Kabut. Dan Tuhan dengan suara-Nya pasti akan memberikan kebaikan untuk Negeri Kabut ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Jakarta</span><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">, 24 Mei 2008</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dan Ia pun Tersenyum Melihat dan Menatapku]]></title>
<link>http://legendabuana.wordpress.com/?p=16</link>
<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 10:26:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>legendabuana</dc:creator>
<guid>http://legendabuana.wordpress.com/?p=16</guid>
<description><![CDATA[Dan ia pun tersenyum melihatku. Aku sangat mencintai cahayaku. Cinta membuatku gila. Bahkan sampai s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Dan ia pun tersenyum melihatku. Aku sangat mencintai cahayaku. Cinta membuatku gila. Bahkan sampai saat ini aku pun tidak menyangka aku berani mengatakan bahwa aku mencintainya dan aku sangat menginginkannya. Entah cinta. Entah nafsu. Tetapi aku memendam hasrat yang sangat terhadapnya. Cinta membuatku gila ataukah kegilaan yang membuatku mencinta?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Arti namanya adalah cahaya. Ia merupakan cahaya yang selalu menyinari dan menghangatkan hari-hariku ketika jalanku mulai terasa redup dan dingin. Bahkan sampai saat ini cahayanya masih menyilaukan hatiku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Ia meninggalkanku disaat aku mulai benar-benar mencintainya dan yakin untuk menjalani hari-hariku bersamanya walau tentangan datang dari pelbagai arah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>“Dulu aku pernah sayang kamu tapi sekarang rasa sayang itu sudah hilang. Aku nggak sayang kamu lagi.” Ujarnya suatu malam dan itu sangat mengagetkanku sebab satu minggu sebelumnya ia masih bermanja denganku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Menangis dan menyesal. Hanya itu yang dapat kulakukan dan kurasakan. Terlalu menyakitkan bagiku sementara aku sudah mulai mencintainya. Kembali hari-hari bersamanya mulai muncul dipikiranku bagai film yang berganti <em>scene</em>. Matanya yang selalu lembut ketika memandangku, tangannya yang besar dan hangat ketika membelaiku, hembusan nafas hangatnya yang teratur ketika menciumku. Aku mulai merindukannya dan memberanikan diri untuk bertanya jika aku memiliki suatu keyakinan yang sama dengan dirinya apakah semuanya akan berubah dan ia bilang “Ya”. Imanku hampir goyah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Cukup lama aku menata diriku kembali hingga akhirnya aku meneleponnya selama satu jam dan ia meneleponku balik selama satu jam pula. Dan aku, tanpa mempedulikan harga diriku, mengungkapkan keinginanku untuk memiliki bagian dari dirinya. Ia menyanggupi. Dan disinilah aku berdiri, di dalam kamar yang hangat menunggunya keluar dari kamar mandi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>“Diluar hujan.” Ucapku memecah keheningan ketika ia keluar dari kamar mandi bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>“Bagus dong, diluar dingin dan kita bisa saling menghangatkan dalam kamar ini.” Jawabnya sambil mengenakan kaos putih. Sedetik aku merasa jijik dengan ucapannya barusan. Tetapi nafasku tertahan ketika aku melihat dirinya. Satu tahun hampir berlalu ketika perpisahan itu terjadi dan tubuhnya makin bertambah besar. Kulitnya yang putih bagi sukunya membuatku makin jatuh cinta karena ia berbeda. Bagian perutnya yang paling kusuka. Tidak <em>six-pack</em> seperti pria-pria metropolis lainnya, tidak gendut, juga tidak kurus, tetapi cukup berisi. Garis halus berwarna hitam berjajar rapi lurus dari atas pusar hingga ke bawah pusar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kemudian ia duduk di atas ranjang. Mengambil <em>remote</em> TV dan mulai menyalakan TV. Aku tetap terpaku melihat dirinya yang begitu indah membuatku terbius dalam keheningan ini. Empat jam yang lalu, Pukul 13.00 kami masih berada di tengah kemacetan lalu lintas ibukota. Dalam waktu empat jam yang begitu cepat kurasa, kami sudah berada dalam satu kamar yang hangat di suatu rumah peristirahatan milik temanku yang berada dekat dengan kaki gunung di selatan Ibukota. Hanya kami berdua tiada orang lain. Entah keberanian darimana datangnya sehingga membuatku benar-benar melancarkan niatku untuk memiliki bagian dari dirinya. Entah apa yang ada dipikirannya hingga ia menyanggupi dan mau datang bersamaku ke rumah peristirahatan yang jauh dari keramaian kota.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Dua puluh empat jam sebelumnya, aku tengah merayu temanku yang aku anggap sebagai matahariku untuk meminjamkan rumah peristirahatan yang baru ia beli dengan harga murah ini. Matahariku adalah orang yang sangat dekat denganku sejak dulu. Katanya ia sangat menyayangiku sehingga apapun yang aku minta pasti dikabulkan. Ketika ia berkata bahwa ia menyayangiku, aku hanya tersenyum kepadanya dan mengatakan bahwa aku sayang padanya tidak lebih sebagai sahabat. Sebenarnya orang tuaku menginginkan aku untuk menikah dengannya karena mereka mengenal dekat orang tuanya. Tetapi, aku belum merasa yakin untuk menghabiskan sisa hidupku bersamanya karena aku hanya menganggap ia sebagai teman dekatku tersayang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Hei, kok melamun? Ada apa?” Tegur cahayaku. Dan ia sudah berdiri tepat dihadapanku dengan tangan kanannya memegang sisi jendela disamping kiri pinggangku dan tangan kirinya membelai rambutku. Nafasnya terasa lembut menyentuh anak rambutku yang ada di dahiku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>“Nggak kok.” Aku bingung harus menjawab apa. Inilah kelemahanku, kikuk bila berada dihadapan orang yang aku suka. Ia menatapku tajam seakan-akan aku ini hasil buruan yang siap dimakannya. Jengah aku ditatap begitu, aku sedikit mendorong tubuhnya untuk memberiku jalan menuju ranjang empuk tempat ia menonton TV tadi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Ada</span><span style="font-family:Arial;"> perasaan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku ketika melewati tubuhnya. Ia berjalan mengikutiku. Kemudian aku duduk di atas ranjang menghadap kearah TV dan mulai mengganti-ganti <em>channel </em>TV. Ia duduk tepat di belakangku dan mulai memelukku serta menciumi leherku. Aku bingung harus berbuat apa. Aku menyukai ketika ia mencium leherku dulu. Rasanya seperti ada yang memberi kehangatan hingga ke tulang. Entah kenapa ketika ia mencium leherku saat ini, tidak lagi kurasakan kehangatan yang mencapai tulang walaupun jantungku berdebar sangat kencang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Ada apa dengan kamu, sayang?” tegur cahayaku lembut. Aku mulai menggeser tubuhku ke sisi kanan dan setengah rebahan. Ada apa denganku? Bukankah ini yang aku inginkan? Perasaanku sangat tidak nyaman, padahal orang yang aku cintai ada di sisiku. Mataku masih tertuju pada layar TV, tetapi terlihat jelas olehnya bahwa aku melamun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Apa yang sedang kamu pikirkan? Biasanya kamu bawel kenapa sekarang jadi pendiam?” tegurnya lagi, kali ini ia sudah ikut berbaring di samping kiriku dan menatapku lekat-lekat sambil tangannya memainkan rambutku. Aku hanya menggelengkan kepala dan balas menatapnya. Biasanya aku tidak pernah berani menatap orang yang aku suka, tetapi pada detik ini aku berani menatapnya. Apa mungkin sebenarnya aku sudah tidak mencintainya? Padahal jantungku berdebar sangat keras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Ia mulai menciumi pipi kiriku dan aku mulai bergeming. Ia mencium bibirku dan aku membalas ciumannya. Nafasnya mulai tidak teratur tetapi menyapu kulit wajahku dengan halus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tanpa kusadari aku mulai luruh dalam pelukannya. Dari bibirku, ciumannya mulai turun ke dagu dan leherku. Tangannya berada dikepalaku dengan ibu jarinya dibelaikan lembut pada pipiku. Aku merasakan gairah yang ada didirinya sedangkan aku hanya tampak seperti boneka dalam genggamannya yang diperlakukan sangat halus olehnya. Tak ada gairah yang muncul pada diriku. Tak ada rasa senang bahwa ia mencumbuku dengan mesra. Tak ada perasaan nyaman ketika ia merengkuh tubuhku. Yang ada hanyalah perasaan tidak nyaman yang berkecamuk dalam hatiku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Apa yang sudah aku perbuat hari ini? Apa yang sudah aku perbuat dua puluh empat jam yang lalu? Meminjam rumah peristirahatan ini hanya untuk melenyapkan emosiku sesaat tanpa memikirkan akibatnya. Bagaimana jadinya jika aku betul-betul memiliki bagian dari dirinya? Apa yang harus aku katakan pada orang tuaku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Cahayaku seperti sudah tak peduli dengan apapun. Ia terus menciumi leherku, kembali ke wajah dan bibirku, kemudian turun ke dadaku. Entah kapan ia melepas kaos dan celanaku, yang pasti saat ini ia berusaha membuka penutup dadaku. Dan herannya, tak sedikit pun aku menolak apa yang ia perbuat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Cahayaku…cahaya yang selalu menyinari hari-hariku dulu. Cahaya yang menghangatkan hatiku ketika aku bersamanya. Saat ini yang kurasa malah sebaliknya. Aku tidak merasakan kehangatan ketika ia membelaiku. Butiran cair berwarna bening mulai jatuh dipipiku ketika aku mengedipkan mata. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.5in;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Mengapa air mata ini terus keluar? Apa yang terjadi pada diriku? Haruskah aku senang dan bahagia karena sebentar lagi ia akan memberikan bagian dari dirinya kepadaku? Mengapa aku terus menangis sedangkan ia sepertinya senang melihat tubuhku yang polos berbaring di kasur yang empuk, di bawah selimut yang hangat yang mungkin sebentar lagi berganti dengan sentuhan kulitnya yang hangat dikulitku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Bunyi sirene terdengar memecah keheningan dan nafas menderu cahayaku. Aku menolehkan kepalaku ke sisi kanan tubuhku tepat ke atas meja kecil disisi ranjang ini. Ada yang mengirimkan pesan singkat padaku. Aneh, padahal tempat ini terpencil dan cuaca juga sedang tidak baik tetapi bunyi sirene pertanda datangnya pesan singkat itu juga menandakan bahwa HP-ku mendapatkan sinyal. Tangan kananku mengambil HP yang aku taruh diatas meja tersebut. Cahayaku mengumpat kesal karena pada saat seperti ini pun aku masih menyempatkan diri melihat pesan singkat itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Message 1: Selama sinar cahayamu menyilaukan hatimu biarlah sinar itu terus menuntunmu dan jangan sampai membutakanmu. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">From: “matahari”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">06.58<span> </span>pm 15 Maret 2006</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Terpaku aku membaca pesan itu. Airmata yang terhenti keluar lagi. Kali ini aku tahu mengapa aku menangis. Aku bangkit, tidak peduli bahwa tak ada sehelai benang pun ditubuhku, aku mengambil pakaianku yang tergeletak di lantai dan cepat-cepat aku kenakan. Kemudian aku membereskan pakaianku yang ada di lemari. Begitu saja aku masukkan ke dalam tasku. Mengambil kunci mobil yang ada di atas meja rias. Dan aku berusaha membuka pintu ketika cahayaku mendadak bangkit dan mendekatiku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Ada apa sih? Siapa yang SMS kamu?” Katanya bingung melihat ulahku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Maaf, aku harus pulang.” Jawabku singkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Tapi ada apa? Terus bagaimana dengan aku? Kamu nggak mau nerusin rencana kamu?” Tanyanya lagi. Dan ia terlihat berantakan sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">“Maaf tapi aku harus pulang. Sekarang.” Jawabku singkat dan airmata terus membasahi pipiku. Kemudian cahayaku hanya memberikan kecupan di keningku dan membukakan pintu kamar. Aku berlari keluar kamar menuju ruang tamu, membuka pintu depan. Dengan tidak mempedulikan gerimis aku membuka pintu mobil dan pergi meninggalkan cahayaku. Meninggalkan masa laluku. Meninggalkan romantisme masa lalu yang indah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aku merasakan detak jantungku berdebar ketika aku mengendarai mobilku menuju ibukota. Menuju kota yang tak pernah tidur. Disitu, mungkin, ia menungguku dengan gelisah. Tak terasa perjalananku hari ini hampir berakhir. Aku tak tahu apakah akhirnya akan baik ataukah buruk. Aku belokkan mobilku ke arah kanan memasuki gerbang perumahanku dan berhenti tepat didepan rumah putih berhalaman luas tanpa pagar setelah aku banting setir ke arah kiri dan menabrak tong sampah hingga isinya berhamburan. Buru-buru aku keluar dari kendaraan itu tanpa menutup pintunya dan berlari menuju pintu kayu berwarna cokelat tua. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aku pencet bel. Kuulangi beberapa kali hingga pintu terbuka. Matahariku berdiri dihadapanku dengan mulut menganga karena kaget. Aku peluk dirinya dan berkata, “cahaya itu hampir membutakanku padahal cahayanya hanya cahaya kecil dibanding cahayamu yang baru mulai kusadari begitu menghangatkanku hingga ke sum-sum tulangku. Rasa hangat yang terus menjalar dan mengalir selama darahku terus mengalir. Maaf, tapi aku sayang kamu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aku terisak dan ia melepaskan diri dari pelukanku. Kemudian matahariku membelai rambutku dan bibirnya membentuk senyuman manis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Dan ia tersenyum menatapku. Kusadari bahwa aku mulai menyayanginya dan yakin akan menghabiskan hari-hariku bersamanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:0.5in;line-height:150%;" align="right"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:0.5in;line-height:150%;" align="right"><span style="font-family:Arial;">Jakarta</span><span style="font-family:Arial;">, 14 Juli 2006</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Groente, idealisme en karakter]]></title>
<link>http://waterlog.wordpress.com/?p=313</link>
<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 17:36:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>Dylan</dc:creator>
<guid>http://waterlog.wordpress.com/?p=313</guid>
<description><![CDATA[ Onder de indruk was ik toen ik vorige week Eeuwige moes van Catherine van Kampen op televisie zag. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em><img style="float:left;margin:0 5px 5px 0;" src="http://nemodroomt.web-log.nl/photos/uncategorized/2008/06/04/eeuwigemoes_2.jpeg" border="0" alt="Eeuwigemoes_2" /> Onder de indruk was ik toen ik vorige week <a href="http://player.omroep.nl/?aflID=7119193">Eeuwige moes</a> van Catherine van Kampen op televisie zag. De documentaire ging niet alleen over de teloorgang van de biodiversiteit van gewassen (wereldwijd is 75% van alle landbouwgewassen de afgelopen eeuw uitgestorven) maar ook over de schoonheid en authenticiteit van mensen; in uiterlijk en karakter. En over de destructieve kant van de instrumentele rede, waar we ons keer op keer van bewust moeten blijven.</em></p>
<p><em>Eeuwige moes</em> gaat over idealisten die vechten voor het behoud van een diversiteit aan groenten en gewassen. Ruurd Walrecht was zo’n idealist: op zijn Oerakker verbouwde hij veertig jaar lang allerlei variëteiten van groenten en lanten die binnen de geïndustrialiseerde landbouw buiten de boot lijken te vallen en langzaam uitsterven. In een ‘groene ark’ verzamelde hij de zaden totdat hij –teleurgesteld dat zijn project niet erkend werd- plotseling naar Zweden vertrok. Zijn akker en verbouwereerde vrienden achter zich latend.<!--more--></p>
<p><em>Eeuwige moes</em> is vooral interessant omdat de unieke gewassen waarover gesproken wordt (en die getoond worden) lijken te harmoniëren met de bijzondere karakters van de besproken personen. Ruurd Walrecht krijg je zelf niet te zien, maar je hoort wel zijn stem. Vrienden van hem komen in beeld zoals de eigenzinnige ‘crofter’ Reid de Jong die met zijn lange baard zo uit een sprookje lijkt weggestapt. Boele Ytsma, de teleurgestelde vriend en medewerker van Ruurd. Of de hippie-achtige nomade Peter ten Bokkum. Mensen die op de een of andere manier niet aangepast lijken te zijn aan deze jachtige samenleving. Het is net alsof al die gewassen met hun grillige vormen, hun vreemde kleuren en soms scherpe uitsteeksels zich hebben weerspiegeld in het karakter van deze bijzondere mensen.</p>
<p>Ik was vooral geïntrigeerd door de gedachten van Walrecht zelf. In het commentaar dat je van hem hoort, veelal voorzien van close-up beelden van aparte groenterassen, klinkt zo nu en dan een verfrissende en tegelijkertijd wereldvreemde levenswijsheid door. Alsof hij alles op zijn kop zet. Bijvoorbeeld een uitspraak als deze:</p>
<blockquote><p>‘Wat maakt een mens mooi? Die kraaienpootjes bij de ogen. Die plooitjes in een gezicht. Op een arm die zichtbare aders. En die nerven van een plant, dat is allemaal van hetzelfde voor mijn beleving. En zoals iemand van tachtig mooi kan zijn van alle rimpels en adertjes en een dun perkamentachtig huidje, dat vind je allemaal terug, ook bij planten.’</p></blockquote>
<p>Het gekke is dat Walrecht er hier vanuit lijkt te gaan dat iedereen rimpels en kraaienpootjes mooi vindt. En dus ook begrijpt dat planten mooi kunnen zijn vanwege die nerven. Dat in een wereld van plastische chirurgie en botox, waarin juist elke rimpel wordt uitgebannen en strakgetrokken, waarin het ideaal is om een zo glad mogelijke huid en een symmetrisch gezicht te hebben. Het leek me dat we die uitspraak beter kunnen omdraaien. Dat je eerder van de nerven van een plant – die de meeste mensen wel mooi kunnen vinden – kan leren dat rimpels prachtig zijn en authenticiteit en karakter uitstralen. Dat is inderdaad het gevoel dat je overhoudt van deze documentaire, met al die prachtige beelden van bonkige, kronkelende, krioelende groenten. Een tomaat met karakter is zo ongelooflijk veel smakelijker dan de zoveelste glimmende <em>Wasserbombe</em>.</p>
<p>Dat Ruurd wel weet dat de wereld anders in elkaar zit blijkt uit een uitspraak later in de documentaire:</p>
<blockquote><p>‘Planten moeten een grote opbrengst hebben, moeten knapperig en vochtig en pompeus zijn, dat zie je bij tomaten, sla, kool. En zo zie je ook de mensen wateriger en vormlozer worden.’</p></blockquote>
<p>Ik vroeg me af wat hij zou bedoelen. Gaat het hem hier om een directe, fysieke relatie van mensen met hun voedsel (door de massaproductie en eenvormigheid van het voedselpatroon ontstaat bijvoorbeeld obesitas)? Of bedoelt hij het meer op een figuurlijke manier, dat de beelden van ons voedsel steeds meer worden gladgestreken, net zoals de beelden die we van onszelf hebben? Dat ons eten gaat lijken op de gephotoshopte dames in de glossy’s en de reclame? Ons een ideaal voorhoudt dat leeg is, een glinsterende huls zonder werkelijke inhoud, zonder het karakter van een doorleefd persoon? Dat we met de biodiversiteit misschien ook wel een spiegel voor onszelf weggooien. En hoe mensen in alle opzichten net zo eendimensionaal als hun voedsel beginnen te worden.</p>
<p>Op een gegeven moment vertelt Walrecht dat we nu allemaal groene komkommers eten omdat de EU dat bepaald heeft. Terwijl er zoveel verschillende rassen komkommers zijn, in alle denkbare vormen en kleuren. ‘Alle groenten moesten uniform worden. En uniformiteit is een daad tegen het leven.’ Die uitspraak lijkt de kern van de hele documentaire te zijn, waarin zowel de onaangepaste karakters van de geïnterviewden als het onderwerp biodiversiteit samenkomen.</p>
<p>Op die uitspraak valt natuurlijk ook kritiek te leveren. Uniformiteit is helemaal geen daad tegen het leven. Door uniformiteit van gewassen kunnen honderden mensen met gestandaardiseerde landbouwtechnieken gevoed worden en juist in leven blijven. In Afrika en Azië kan uniformiteit en een industriële werkwijze misschien wel de oplossing betekenen van de huidige voedselcrisis. Toch heeft Walrecht wel een punt, want standaardisatie vernietigt een enorm gedeelte van de schatkist die de natuur door miljoenen jaren van evolutie is geworden. Een diversiteit die door geen mens ooit meer kan worden hersteld.</p>
<p>Er zijn zo te zien twee kanten aan dit onderwerp en het deed me denken aan een oud, maar in mijn ogen nog steeds zeer relevant filosofisch betoog. Ik doel op de dialectiek van de Verlichting van Adorno en Horkheimer. De instrumentele rede, die rede die maakt dat het universele (uniforme) boven het particuliere komt te staan, heeft de mens in staat gesteld de gevaarlijke vernietigende kracht van de natuur te leren beheersen. Dat aspect van overheersing maakt deel uit van de rede zelf en kan zich ook weer tegen de mens keren. De Verlichte verhouding tot de natuur (en tot de mens zelf) zal daarom altijd een dialectische zijn. Standaardisatie van technieken en gewassen heeft voordelen, maar we moeten onze ogen niet sluiten voor de destructieve aspecten daarvan. Een deskundige uit de genenbank in Wageningen (die de zaden van de oerakker van Walrecht proberen te bewaren) gaf zelfs aan dat het verdwijnen van de diversiteit aan gewassen uiteindelijk de voedselvoorziening in gevaar kan brengen. In de woord van Walrecht:</p>
<blockquote><p>'Het leven staat niet centraal in zijn volle bloei, maar eigenlijk de donkere bederfkant. Die staat centraal in onze cultuur. We creëren nu meer dood, dan dat we leven creëren.’</p></blockquote>
<p>Het is heel erg jammer dat Ruurd Walrecht niet meer geld en middelen heeft gehad om zijn belangrijke werk te doen. Idealisten zoals hij en zijn vrienden zouden meer ruimte moeten krijgen binnen deze op snelle en massale productie gerichte samenleving. Niet alleen omdat het een noodzaak is om al dat genenmateriaal van unieke planten niet verloren te laten gaan. Ook vanwege de indrukwekkende filosofische inzichten die je blijkbaar uit al die prachtige, unieke groenten kan opdoen.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Scolastique et rationalisme]]></title>
<link>http://lavoixdansledesert.wordpress.com/?p=462</link>
<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 19:48:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>La voix dans le desert</dc:creator>
<guid>http://lavoixdansledesert.wordpress.com/?p=462</guid>
<description><![CDATA[-Ludwig Feuerbach, La philosophie de l&#8217;avenir-
(36) &#8220;Alors que l&#8217;ancienne philosop]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;">-Ludwig Feuerbach, <em>La philosophie de l'avenir</em>-</p>
<p style="text-align:left;">(36) "Alors que l'<em>ancienne philosophie</em> commençait par la proposition : <em>je suis un être abstrait, un être purement pensant, mon corps n'appartient pas à mon essence</em>; la philosophie <em>nouvelle</em> au contraire commence par la proposition : <em>je suis un être réel, un être sensible ; oui mon corps dans sa totalité est mon moi, mon essence même</em>. C'est pourquoi l'ancienne philosophie pensait <em>dans une contradiction et un conflit continuels avec les sens</em> pour empêcher les représentations sensibles de souiller les concepts abstraits; le philosophe nouveau, au contraire pense <em>en harmonie et en paix avec les sens</em>. L'ancienne philosophie admettait la vérité du sensible (et jusque dans le concept de Dieu qui inclut l'être en lui-même, car cet acte devait malgré tout être ne même temps un <em>être distinct de l'être pensé, un être extérieur à l'esprit et à la pensée, un être réellement objectif</em> (objectives), <em>c'est à dire sensible</em>), mais elle ne l'admettait que d'une manière <em>dissimulée</em>, purement <em>abstraite</em>, <em>inconsciente</em> et <em>involontaire</em>, uniquement parce qu'elle <em>ne pouvait pas faire autrement</em>; la philosophie <em>nouvelle</em> au contraire reconnaît la vérité du sensible <em>avec joie</em>, <em>consciemment</em> : elle est la philosophie <em>sincèrement sensible</em>."</p>
<p style="text-align:left;">La première question qui vient à l'esprit après la lecture de ces lignes, est évidemment celle-ci : à quelles philosophies Feuerbach fait-il référence sous l'appellation générale d'<em>ancienne philosophi</em>e ? L'ensemble du texte nous permet de répondre avec certitude qu'il nomme ainsi la philosophie idéaliste qui est il faut dire, admirablement bien décrite au fil des lignes. On pourrait également y voir le cartésianisme, puisque Descartes est le premier à séparer l'être en deux parties parfaitement hermétiques l'une à l'autre, corps et âme, balayant avec ses principes l'unité de l'être de la philosophie aristotélicienne, et le réalisme scolastique. Ce retour à l'harmonie et à l'unité que Feuerbach appelle de ses vœux par son projet de philosophie nouvelle est une illustration de plus que ce qu'écrivent de plus vrai les rationalistes se trouve de toute façon déjà exposé dans la philosophie scolastique. L'appellation de <em>philosophie sincèrement sensible</em> pourrait parfaitement s'entendre à l'égard de saint Thomas, auteur des <em>Principes de la réalité naturelle</em>.</p>
<p style="text-align:left;">Cette proposition en dit plus long sur le programme de cette <em>philosophie nouvelle</em> :</p>
<p style="text-align:left;">(54) "La philosophie nouvelle <em>fait de l'homme joint à la nature</em> (comme base de l'homme) <em>l'objet unique, universel et suprême</em> de la philosophie, et donc de <em>l'anthropologie jointe à la physiologie</em>,<em> la science universelle</em>."</p>
<p style="text-align:left;">Il y a ici deux choses à relever. La première c'est l'athéisme de la réforme* voulue par Feuerbach. L'homme et la nature comme seuls objets de la philosophie, c'est affirmer la séparation radicale de la philosophie et de la théologie. A <em>l'arbitraire théologique</em> (pour reprendre une de ses formules), il laisse le soin de palabrer sur les attributs divins, tandis que la philosophie doit parallèlement, ne s'occuper que de l'homme. Pas question ici de voir en la philosophie un appui de la théologie, et en la théologie l'explication surnaturelle de l'homme et de la nature. Au moins Feuerbach est honnête, et emploie le mot réforme (ou peut-être est-ce la traduction française ?); car parler de révolution dans la philosophie quant à cette attitude apparemment  anti-théologique serait au moins une plaisanterie de mauvais goût.</p>
<p style="text-align:left;">Mais puisque Feuerbach ne veut pas subordonner la philosophie à la théologie, puisqu'il lui donne de nobles objets d'études tout en lui refusant le support théologique, c'est donc que cette philosophie va devoir prendre les attributs de la théologie. C'est le grand paradoxe de la philosophie rationaliste, en effet, que de créer <em>de facto</em> l'<em>arbitraire philosophique</em> qui décrète pour lui-même ce qu'il convient qu'il étudie, et comment il convient qu'il le fasse. L'expression <em>science universelle</em> utilisée à la fin du paragraphe indique déjà que la philosophie désirée de Feuerbach fait siens les attributs que la théologie scolastique considérait comme propres à la science théologique. La différence, c'est que la scolastique parlait en théologienne, tandis que la philosophie de Feuerbach doit pour ce faire, emprunter des habits qui ne sont pas les siens.</p>
<p style="text-align:left;">(61) "Le <em>philosophe absolu</em> disait, ou du moins pensait de lui, en tant que <em>penseur</em> naturellement, et non en tant qu'homme : <em>la vérité c'est moi</em>, à la manière de <em>l'Etat c'est moi</em> du monarque absolu, et de <em>l'être c'est moi</em> du Dieu absolu. Le philosophe humain dit au contraire : <em>même dans la pensée, même en tant que philosophe, je suis un homme uni aux hommes</em>."</p>
<p style="text-align:left;">Il faut entendre ici que le <em>philosophe absolu</em> est un cartésien pyrrhonien, qui affirme que la raison peut tout prouver (bien qu'une telle assertion soit un postulat crédule). Une telle expression ne peut qualifier un philosophe scolastique que par le biais de la malhonnêteté, ceci en raison de la subordination de la philosophie à la théologie, bien sûr. Un philosophe pour qui la vérité théologique est une réalité surnaturelle, ne peut se considérer comme détenteur de la vérité, sous peine d'être en contradiction essentielle avec son système de pensée. Un philosophe guidé par sa seule raison, peut également arriver à cette sage conclusion que la vérité ne lui appartient pas. Et affirmer que la vérité n'est pas un attribut humain, c'est se placer dans le domaine de l'induction, c'est à dire au seuil de la théologie.</p>
<p>Deux systèmes théologiques s'affrontent ici : le premier est ouvertement théologique, tandis que le second l'est au contraire de manière <em>dissimulée</em> (pour reprendre un mot de Feuerbach). Le premier, une fois postulée la nature divine et ses attributs, expose les caractères de la nature humaine et les attributs qui lui sont conséquents. Ce système affirme la faiblesse des attributs humains par la grandeur des attributs divins, c'est le système catholique. Le second usurpe une fonction qui ne correspond pas à sa nature, afin de déterminer les caractères de la nature humaine, et ne récupère sa nature philosophique que pour donner à l'homme les attributs de Dieu.</p>
<p style="text-align:left;">Feuerbach décrit le philosophe régénéré par la réforme qu'il souhaite, comme <em>un homme lié aux autres hommes</em>. Et nous avons écrit plus haut que la philosophie de Feuerbach est une philosophie parée d'attributs théologiques. Nous n'avons plus qu'à constater que le Dieu de Feuerbach est l'ensemble des hommes, (ce en quoi il rejoint le positivisme d'Auguste Comte), et que ce Dieu a un clergé : les penseurs de la philosophie <em>nouvelle</em>. Mais encore, cette formulation est impropre, car ce clergé et le Dieu qu'il sert ne sont pas deux essences distinctes. On touche au panthéisme.</p>
<p style="text-align:left;">Il peut-être bon de rappeler à présent, ces deux paragraphes sur lesquels commence l'ouvrage dont nous traitons ici:</p>
<p style="text-align:left;">(1) "Les temps modernes ont eu pour tâche la réalisation et l'humanisation de Dieu -la transformation et la résolution de la théologie en anthropologie."</p>
<p style="text-align:left;">(2) "Le mode <em>religieux</em>, ou <em>pratique</em> de cette humanisation fut le Protestantisme. Seul <em>le Dieu</em> qui est homme, le Dieu humain, c'est à dire le Christ, est le Dieu du Protestantisme. Le Protestantisme ne se préoccupe plus, comme le Catholicisme, de ce qu'est Dieu <em>en lui-même </em>mais seulement de <em>ce qu'il est pour l'homme </em>; aussi n'a t'il plus de tendance spéculative ou contemplative, comme le Catholicisme; il n'est plus <em>théologie</em> - il n'est essentiellement que <em>Christologie</em>, c'est à dire <em>anthropologie religieuse</em>."</p>
<p style="text-align:left;">Les ressorts du protestantisme ne sont pas vraiment différents de ceux de la philosophie de Feuerbach. Le protestantisme est comme la philosophie <em>nouvelle</em> un refus de la subordination de l'intelligence humaine à la Vérité Révélée via le principe du libre-examen, ou plus généralement, il est une mystique de l'homme qui refuse de se soumettre à Dieu.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:left;">Aubry a pu écrire au XIX ème siècle avec lucidité que la philosophie avait rendu un grand service à la théologie, et que la théologie le lui rendait bien à présent. Nous pourrions presque dire aujourd'hui, au regard de tout ce qu'à produit la philosophie rationaliste, que la philosophie rend un grand service à la théologie catholique, car d'une certaine façon, elle prouve ces mots de Donoso-Cortès, que <em>L’homme ne peut sortir des obscurités du dogme catholique sans se condamner à vivre dans une obscurité encore plus profonde. </em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-style:normal;">La philosophie est bien </span></em><span style="font-style:normal;">l'histoire de la folie humaine</span><em><span style="font-style:normal;">, un témoignage qui subsistera tant que les hommes pourront raisonner, que la théologie -j'entends la théologie catholique- sauve la philosophie. Mais il faut bien dire que cette comparaison de la philosophie moderne avec la philosophie antique (à laquelle Aubry faisait référence) s'arrête là. La philosophie moderne ne présente pas un seul Socrate capable d'affirmer son impuissance. En adhérant à la philosophie des anciens grecs, on pouvait aboutir à accepter la théologie catholique (le rôle de la philosophie grecque dans l'élaboration du système scolastique suffit à prouver cette assertion pour qu'on ait à s'y attarder), tandis que s'il lit la philosophie moderne, l'homme doit la rejeter pour aboutir au catholicisme.</span></em></p>
<p class="MsoNormal">_______</p>
<p class="MsoNormal">* Allusion à un autre ouvrage du même Feuerbach, <em>Thèses provisoires pour la réforme de la philosophie</em>, dans lequel ce dernier expose sa vision de la philosophie <em>nouvelle</em>.</p>
<p style="text-align:left;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lembayung Senja]]></title>
<link>http://legendabuana.wordpress.com/?p=9</link>
<pubDate>Fri, 30 May 2008 09:19:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>legendabuana</dc:creator>
<guid>http://legendabuana.wordpress.com/?p=9</guid>
<description><![CDATA[Kerinduan terhadap masa lalu membawaku menelusuri tempat dan jalan-jalan yang pernah kutempuh pada m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="EN-GB">Kerinduan terhadap masa lalu membawaku menelusuri tempat dan jalan-jalan yang pernah kutempuh pada masa kecil. Hingga sampailah aku di sini, pada dermaga ini, tempatku bermain dan tertawa-tawa bersama teman sebaya, Lembayung Senja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:200%;"><span lang="EN-GB">Di dermaga ini Lembayung Senja sering berlatih menari, aku melukis kapal-kapal mewah milik orang kaya yang sedang bersandar. Atau melukis laut, burung-burung camar, matahari senja, dan juga langit senja. Di dermaga ini pula kami sering melamunkan masa depan, yang dengan sangat tidak sabar ingin kami jelang bersama. Kala malam mulai membayang, kami baru beranjak pulang meninggalkan dermaga, untuk kembali lagi ke sana keesokan hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Lembayung Senja adalah gadis berkulit putih, dengan rambut hitam panjang terurai bagai air terjun, dan paras teramat cantik. Banyak laki-laki yang tergoda oleh keanggunannya. Tentu saja. Ditambah tubuhnya yang terbilang tinggi untuk anak seumur dia, dan badan yang molek serta kepintarannya menari, Lembayung Senja sungguh akan membuat para lelaki tergila-gila memimpikannya. Padahal, waktu itu dia hanyalah seorang anak perempuan yang masih berusia 12 tahun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Lembayung Senja lahir ketika langit senja dihiasi warna lembayung, sehingga ayahnya terinspirasi memberi ia nama demikian. Mungkin karena itu pula Lembayung Senja amat menyukai saat-saat dimana dia dan aku duduk berdua di dermaga, sambil melihat ke langit senja, serta melamunkan angan-angan masa kanak kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="EN-GB"><span> </span>“Suatu hari nanti aku ingin keliling dunia dengan tarian-tarianku. Aku ingin membuai semua penduduk dunia dengan nyanyianku,” ujarnya sambil mengikik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="EN-GB"><span> </span>“Aku ingin keliling dunia dengan lukisan-lukisanku, dan mewarnai penduduk dunia dengan cat airku,” ujarku sambil ikut terkikik-kikik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="EN-GB"><span> </span>“Kalau begitu, kita keliling dunia bersama-sama saja!” kata Lembayung Senja dengan amat gembira. Aku mengangguk, sambil menatap langit senja yang berwarna lembayung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Angan-angan masa kecil yang sangat indah. Betapa aku rindu ingin kembali ke masa itu. Masa-masa di mana segala sesuatunya berjalan lancar, aman, dan damai. Masa-masa yang penuh dengan gelak tawa kami berdua. Saat itu, walaupun banyak kapal-kapal orang kaya yang merapat di dermaga, tetapi selalu ada tempat bagi kami berdua untuk melepas pandang, sambil duduk-duduk menikmati hembusan angin laut, juga tanpa khawatir apa-apa. Air laut pun masih terlihat jernih, dengan warna birunya yang teduh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Tapi, setelah tujuh tahun aku pindah dari kota ini, semua terlihat berantakan. Kapal-kapal orang kaya yang bersandar di dermaga tinggal sedikit, itu pun tampak kotor pula. Padahal dulu, aku dan Lembayung Senja memimpikan ingin memiliki satu dari sekian banyak kapal-kapal yang kelihatan mewah itu. Sepanjang dermaga kini banyak sampah, kotor sekali, seperti tidak pernah dibersihkan. Tujuh tahun lalu ada seorang bapak tua yang selalu rajin membersihkan dermaga, tiap malam menjelang, ketika aktivitas di dermaga sudah berhenti. Air laut yang dulu jernih, dengan warna biru yang teduh, sekarang kumuh. Sampah bertebaran di mana-mana, airnya berwarna hijau kehitaman. Ingin rasanya aku menangis melihat semua itu. Kiranya waktu sudah mengubah semuanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Tujuh tahun. Waktu selama tujuh tahun telah mengubah segalanya. Termasuk angan-angan masa kanak kami. Yang terekam dalam ingatanku pada tujuh tahun yang lalu itu adalah, di awal minggu pada pertengahan tahun, ayah menyuruh kami sekeluarga bersiap-siap untuk pindah ke daerah selatan. Kata ayah kondisi kotanya relatif lebih aman di situ. Aku belum mengetahui apa-apa saat itu, jadi menurut saja yang dikatakan ayah. Ibu mengemasi pakaian-pakaianku, sedang aku mengemasi peralatan melukisku. Yang aku tahu saat itu hanyalah, kami akan pergi dan aku akan berpisah dengan Lembayung Senja. Tetapi hanya untuk sementara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style=